Nambah Uang Tanpa Nambah Kerjaan

Judulnya provokatif ya. Kalau kamu jadi mampir kesini karena judul itu, berarti saya berhasil menarik perhatianmu. Aha!

Tapi tenang, bukan cuma sekedar judul, tapi ini beneran. Jadi saya baru nemu program asik yang bisa nambah uang dari sampingan kamu tanpa kamu mesti ngapa-ngapain. Oh sampe sini saya harus kasi disclaimer bahwa ini bukan multilevel marketing ya. Tadinya mau bilang passive income tapi khawatir nanti terdengar terlalu MLM, padahal memang bisa dibilang passive income sih.

Sini saya ceritain detail. Yang perlu kamu lakukan cuma tinggal posting di blog soal program ini, atau pasang banner di blog mu biar tambah asik. Yang aktif twitteran (iya, maksudnya kayak saya) bisa tweet link program ini, yang aktif di forum dan punya banyak temen ngobrol online bisa posting di forumnya masing-masing. Tujuannya buat apa? Ya buat dapet uang tambahan tanpa kerjaan itu tadi.

Yang pertama kamu perlu lakukan adalah masuk ke http://mifx.com/aa Di bagian bawah website itu, kamu akan mendapati ini :

Nah setelah mengisi nama, alamat, email, dan nomer telepon, di inbox mu akan ada link untuk verifikasi email. Biasalah ini, kayak kalo registrasi newsletter online shop gitu (ketauan doyan belanja).

Setelah kamu memverifikasi link tersebut, maka kamu akan mendapatkan email “Welcome Partnership” berisi 3 point penting yaitu :

1. Terms & Condition —> perlu dibaca

2. Skema –> perlu dibaca untuk tau kira-kira berapa nominal yang bisa kamu dapatkan lewat program ini

3. Update profile –> PENTING dibuka dan diupdate karena menyangkut kelangsungan pendapatan kamu di program ini. Maksudnya, disini kamu bisa isi no rekening, no KTP, dan sekaligus upload KTP kamu untuk menyelesaikan proses registrasi ini.

Setelah itu, di halaman milikmu pribadi kamu akan mendapatkan ini :

panah

Lihat tanda panah itu? Nah, klik tulisan “advert” itu, maka kamu akan mendapatkan ini :

Screen Shot 2014-09-02 at 3.04.13 PMNah, 2 link itulah yang akan menjadi ‘senjata’ kamu dalam ‘berjualan’. Seperti saya bilang di atas tadi, link itu bisa dimasukin ke blog, di tweet via twitter, disebar di forum, dan lain-lain. Bahkan kamu bisa juga melakukannya secara offline. Artinya, misalnya kamu punya tempat ngumpul, atau warung, atau mau depan kamar kost juga boleh. Caranya? Bikin banner, cantumkan QR Code yang akan mengarahkan pembaca ke link referral kamu,

Sebenernya jumlah uang yang bisa kamu dapatkan sudah dijelaskan di bagian Skema kan ya, tapi secara garis besarnya sini saya kasi tau :

1. Kalau ada orang yang mendaftarkan dirinya ke demo account, kamu akan mendapatkan reward sebesar Rp. 5000/akun. Berlaku tentu saja kalau semua data akun tersebut bisa diverifikasi (email, no telepon valid).

Eh apa sih artinya demo account? Itu lho, kayak akun untuk mencoba trading secara demo. Jadi nanti lewat akun demo itu, kamu bisa seolah olah nyobain trading beneran, karena harga yang berlaku adalah harga yang beneran berlaku di pasaran. Jadi kamu bisa ikutan ngerasain deg-deg annya transaksi di pasar uang. Akun demo ini biasanya dipakai trader untuk ‘berlatih’ membiasakan diri bertransaksi online, juga dalam mengatur emosi dalam trading.

Bila ada 10 orang yang mendaftar demo account dan valid, maka kamu akan mendapatkan reward sebesar Rp. 50.000 per hari. Hal ini bisa berlangsung setiap hari, ingat, tanpa kamu perlu melakukan apa-apa.

2. Kalau ada orang yang kemudian bergabung dengan membuka akun ‘beneran’ alias live account, maka kamu akan mendapatkan reward sebesar $2 per 1 lot transaksi yang settle. Sebagai catatan, trader biasanya bertransaksi kurang lebih 3 lot per hari. Artinya kamu akan mendapatkan $6 per hari, yang bila diakumulasikan selama sebulan menjadi :

22 hari x $6 = $132 = Rp. 1.320.000

ini hanya dari satu nasabah. Bayangkan kalau kamu punya 5 nasabah :)

Dan ingatlah bahwa kamu beneran ngga usah ngapa-ngapain, tinggal pasang link referral kamu di media yang kamu punya. Seperti yang saya lakukan di samping kanan blog saya ini.

Trus tinggal duduk kipas kipas deh :)

Oya, kalau ada yang mau ditanya, silakan menghubungi :

Call Us!

Call Us!

 

 

Leave a comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Yasmine The Movie, Antara Review, Spoiler dan Curcol

Saya memang bukan penggemar berat film. Nonton film tentu saja suka. Di bioskop, tentu saja. Kalau di rumah kebanyakan direcokin sama urusan anak dan urusan bikin kopi biasanya. Film yang saya suka biasanya ga jauh dari drama komedi, drama menye, dan drama-drama lainnya. Film-film box office macam The Avengers, Spiderman dll bukan film tipe saya. Kalaupun saya nonton ya pasti dengan alasan nemenin anak aja.

Minggu lalu ada 2 tiket melayang ke meja saya, untuk nonton sebuah film berjudul Yasmine. Saya tentu saja pernah denger judul film ini, dimana lagi kalau bukan di Path pemberi tiket nontonnya? Waktu menerima tiket ini saya baru sadar kenapa si pemberi tiket sudah lama tidak bercakap-cakap santai dengan saya, dan sudah lama pula sejak saya terakhir menerima surat dengan tulisan tangannya (iya ini tahun 2014, dan iya kami masih surat-suratan pake tulisan tangan). Ternyata waktunya menulis surat untuk saya habis karena mengurusi film ini.

Maka di sela-sela kesibukan saya (yang adalah tidur-tiduran dan belanja sepatu), saya menyempatkan diri dateng ke XXI BIP yang sekarang disebut XXI Empire hari Rabu kemarin. Seperti yang saya pernah keluhkan di twitter kemarin-kemarin, kenapa sih film bagus kok mainnya bentar banget. Untuk film sebagus Yasmine, satu minggu di bioskop tentulah tidak cukup. Dan saya menyesal kenapa nggak nonton lebih awal biar tulisan ini bisa lebih cepat keluar dan bisa (siapa tau) bikin kamu pengen nonton filmnya.

Yasmine, Menembus Batas Demi Cinta

Yasmine, Menembus Batas Demi Cinta

5 menit duduk dan menyaksikan adegan pertama, saya kira ini film silat beneran. Baru 15 menitan setelahnya saya sadar bahwa ini film remaja. Cerita soal remaja Brunei yang cerita hidupnya ga beda-beda jauh sama remaja di kita, perihal sekolah, pergaulan, orang tua, dan tetek bengeknya. Yasmine diperankan dengan sangat baik oleh Lilyana Yus. Menurut informasi yang saya terima, katanya gadis remaja ini bener-bener baru di bidang film, belum pernah main film sama sekali. Kalau begitu, saya harus bilang wow karena aktingnya natural, seperti karakter Yasmine ini diciptakan sesuai karakternya sendiri.

Lilyana Yus as Yasmine

Lilyana Yus as Yasmine

 

Ada siapa lagi di film ini? Nama2 yang tentu kamu kenal seperti Reza Rahadian (kali ini saya yakin itu dia dan ga ketuker lagi sama Herjunot Ali seperti waktu film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk), ada Dwi Sasono yang sangat menghibur sepanjang film, dan ada Agus Kuncoro yang kadar menghiburnya sama ketika dia memerankan sosok penjahat di Comic8 (sampe sini bahasa saya kayak movie blogger banget ga sih?).

Yang istimewa dari film ini adalah semua pemeran bermain dengan sangat natural, tidak ada satupun sosok yang bikin ganggu. Termasuk guru mengaji Yasmine yang sepanjang film terus mengunyah kue cincin. Itupun saya nilai menganggu karena saya jadi penasaran gimana rasanya kue cincinnya itu.

Dua karakter yang menjadi teman dekat Yasmin sepanjang film juga patut diacungi 2 jempol, tidak physically gorgeous2 banget, tapi bermain sangat pas. Begitu juga dengan peran teman-teman Yasmine yang lain, sampai ke musuhnya yang kok cantik banget sih? Seriusan, sampe lebih cantik dari pemeran utamanya. Semua bermain natural, sampe sempet lupa kita lagi nonton film (ok ini lebay, maafkan).

Cerita Yasmine bukan cerita pelik kok, masalah yang dihadapi biasa-biasa aja, diawali soal cemburu. Cemburu memang bikin perempuan bisa melakukan apa saja, positif atau negatif. Berakibat jadi bagus, atau berakibat jelek. Semua bisa. Jangan anggap remeh kekuatan cemburu, jangan aja. Film ini contohnya. Dan bener dugaan saya selama ini, yang namanya cemburu itu lebih banyak kaitannya dengan ego kok daripada dengan cinta itu sendiri. Ketika akhirnya kita sudah memenangkan ego itu sendiri, cinta kadang-kadang jadi nggak ada artinya lagi. Penyebab kenapa kita sampe cemburu pun hilang begitu saja, yang penting posisi sudah di ‘atas’ dan kita tau kita menang. Pesan moral yang juga bisa dianggap sebagai selfnote dari film ini adalah next time dirundung cemburu, coba dipikir, karena cinta apa karena ego?

Yasmine memang sudah tidak tayang di bioskop-bioskop di Bandung, tapi di Jakarta kayaknya masih ada. Di Bandung sih sudah digantikan dengan film berjudul “Olga & Billy Lost in Singapore” (I know, I know). Bila ada waktu senggang, pergilah nonton, saya yakin kamu pasti akan menikmati film itu lebih dari saya menikmati Siomay gorengnya XXI (gosh, XXI seriusan harus belajar bikin Siomay Goreng dari tukang Siomay yang beneran).

Di luar kenyataan bawah bapaknya Yasmine terlalu ganteng, terlalu necis, dan terlalu rapi untuk jadi ‘sekedar’ petugas perpustakaan dan kenapa anak perempuannya pake mobil Mini Cooper tapi nggak bisa bayar sekolah swasta, film ini memang perlu ditonton. Sesuai pesan pengirim tiket, tontonlah dengan siapa yang kamu cintai. (note : saya nonton bertiga sama sepasang sepatu baru)

note : gambarnya ‘minjem’ dari 21cineplex.com & theguardian.com

5 Comments

Filed under Film

Menyusuri Tarutung Sampai Samosir

Sampe sekarang saya nggak pernah ngerti kenapa perjalanan yang (sempat jadi) perjalanan terasik taun ini kok ya baru diposting sekarang setelah terlambat selama, oh well 6 bulan. Beginilah kalo penulis amatiran merangkap pekerja kantoran merangkap ibu-ibu yang selain ngurus anak juga rewel minta me time terus menerus.

Pendek cerita, bulan Februari lalu saya ‘pulang kampung’ ke Sumatera Utara. Kenapa pulang kampung kesana padahal muka Hongkong begini? Kampung suami maksudnya, kebetulan alm bapaknya berasal dari Tomok, Samosir, dan ibunya berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara. Kemarin itu, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kami mengunjungi 2 tempat ini. Tentu mampir sana sini, misalnya Medan dan Siantar dengan alasan apalagi kalau bukan nyari makanan enak. Tulisan perihal makanan sudah saya posting duluan disini.

Siang itu kami nyampe Bandara Kualanamu Pk. 14.00an, tiba disana cukup tercengang ya, dibandingkan dengan bandara Polonia, wah jauh banget. Kualanamu (waktu itu) mungkin salah satu bandara paling bagus yang pernah saya lihat di Indonesia. Berhubung baru, tentu saja semua sudutnya masih bersih dan yang paling asik adalah mereka kaya sign age, ga peli, jadi walaupun baru kesana ga akan nyasar.

Mobil jemputan susah menanti kami di pintu keluar. Lho yang jemputnya mirip Restu Sinaga. Dari Kualanamu, ga pake mampir Medan, kami langsung menuju Tarutung. Perjalanan ditempuh dalam waktu 11 jam. Mungkin hampir mirip dengan jarak dari Bandung ke Jogjakarta. Kalo ga pake kebanyakan berenti dengan alasan makan, ngopi dan merokok mungkin perjalanan ini bisalah ditempuh dalam waktu 8 jam-an.

Sampai di Tarutung, saya baru menyadari satu hal : saya salah kostum! Ternyata Tarutung ini dingin banget! sementara saya walaupun berbekal celana panjang, cuma bawa 1 jaket tipis alias cardigan yang terkadang menahan dinginnya mall di Jakarta aja ndak sanggup.

Tarutung terkenal dengan pemandian air panas alaminya. Yang dengan bodohnya saya lewatkan begitu saja. Sebenernya, kunjungan kami ke Tarutung waktu itu adalah untuk memakamkan nenek kami yang meninggal beberapa hari sebelumnya. Jadilah 2 malam itu kami habiskan di rumah yang senantiasa penuh dengan tamu lengkap dengan nyanyian dan tarian yang selalu ada setiap saat. Pengalaman yang seru juga, untuk pertama kalinya Biyan manortor dan ternyata dia langsung seneng. Saya cukup tercengang dengan dandanan ibu-ibu yang dengan niat banget dandan ke salon untuk upacara adat pemakaman ini. Belakangan saya baru tau bahwa acara pemakaman ini bisa juga dianggap pesta, apalagi nenek yang meninggal bisa dibilang sudah bisa mendapatkan pesta adat tertinggi karena semua putra putrinya sudah menikah dan punya anak, maka bisa dibilang tuntaslah kewajibannya. Belajar budaya baru kan selalu seru ya, maka saya pun menikmati menonton semua “atraksi” di dalam upacara pemakanan ini. Walaupun setelah jam 2 siang saya mulai bosan kemudian jalan-jalan ke sawah di depan rumah, nonton kerbau dan sekaligus foto-foto kaki buat #gerakankakidiatasmejatiapjumat. Ketika semakin sore dan upacara masih belum selesai juga, saya mulai iseng-iseng jajan tuak di pedagang asongan dadakan yang tiba-tiba berdatangan dan berdagang di halaman kami. Seru juga tuak asli di Tarutung ini, 5 ribu rupiah saja sudah bikin puyeng dan kemudian bikin meracau.

Usai pemakanan, besokannya kami meneruskan perjalanan ke Samosir, persisnya ke Tomok. Perjalanan yang ditempuh selama 4 jam ini sungguh menyenangkan, pasalnya ya tentu saja pemandangan yang luar biasa cantik. Sayang sekali saya nggak sempat foto-foto, saking menikmati pemandangan cakep di luar jendela mobil. Selain itu, tangan juga sibuk pegang snack sih..

4 jam-an kemudian, kita sampe di pelabuhan yang ferynya gede banget itu, yang bakal membawa kita ke Samosir. Sambil nunggu ferry, saya sempet makan Ikan Tombur yang enaknya surga dunia, lagi-lagi ceritanya ada disini

Ferry menuju Samosir ditempuh dalam waktu 20 menitan. Sayang sekali himbauan dilarang merokok di ferry sama sekali nggak diindahkan penumpang. Padahal bahan bakar ditaro di dalam ferry juga.

IMG_3040

Sampe di Samosir saya kemudian nyadar, daerah ini sudah lama banget jadi daerah wisata ya. Saya aja yang umur 30 sekian baru menginjakkan kaki disana. Begitu ‘mendarat’ dari Ferry, kami sudah disambut beragam toko yang menjual pakaian, dan souvenir khas Toba. Berhubung saya bukan penggemar belanja kala jalan-jalan, maka jejeran toko itu pun saya lewati begitu saja. Tujuan utama, ke jejeran rumah adat. Kenapa? Karena keluarga kami masih punya satu rumah yang dipertahankan disitu. “keluarga kami” disini artinya keluarga besaaaaaaar sekali ya. Artinya yang punya banyakan :)

Yang seru dari kunjungan ke makam keluarga ini adalah waktu hampir kejatuhan duren di makam. Abisnya pohon duren banyak banget dan waktu memang lagi banyak yang berjatuhan. Saya bukan penggemar berat duren, tapi kalau ada yang jatuh depan mata ya pasti ga ditolak. apalagi ternyata beneran yang orang bilang, duren yang jatuh sendiri dari pohonnya, rasanya lebih enak dari duren yang dipetik. Rasanya kepengen mengulang perjalanan ini demi duren yang berjatuhan dari pohon itu.

 

Katanya kalau ke Tomok, haruslah mampir ke makam Raja Sidabutar, ceritanya dari sinilah silsilah keluarga kami berasal. Makamnya unik, katanya sih dibuat persis dengan wajah si Raja ini dulu. Masuk ke kompleks makam ini pengunjung diwajibkan pake ulos yang disediakan secara gratis oleh penjaganya. Kalau kesorean, biasanya makam ini dikunci dan kita cuma bisa liat dari luar. Beberapa pengunjung kemudian juga mengambil kesempatan berdoa disitu.

Makam Raja Sidabutar

Makam Raja Sidabutar

Buat yang tertarik sama budaya Batak, bisa cari tau di Museum Batak yang ada di deket-deket Makam Raja Sidabutar itu, lengkap keterangannya. Kalo ngga salah sih ada guide nya juga yang akan dengan senang hati menjelaskan.

Perjalanan ke Samosir ini memang belum lengkap, saya belum sempat menyaksikan cantiknya Danau Toba dari sisi yang lain. Karena area yang kami lewati memang area danau yang biasa aja. Artinya apa? Artinya tahun depan harus ke Samosir lagi, cari spot cantik. Barengan yuk.

Eya, waktu kami menginap di Medan semalam nunggu flight paginya ke Bandung, kita dengan mudah booking via klikhotel.com. Karena waktu itu sempet lupa book hotel. Keasikan siap-siap jalan sampe beneran lupa, untungnya bisa book di klikhotel.com, bisa via henpon pula, bayarnya gampang juga tinggal transfer via bca, semuanya dibikin mudah sama klikhotel, thanks yaw :)

1 Comment

Filed under Family, jalan-jalan

Crop Foto Sana Sini

Saya penikmat foto-foto pemandangan yang indah indah. Pasti kamu juga. Yang paling sering sih foto sunset. Atau foto sunrise (note : saya sama sekali tidak punya foto sunrise karena nggak pernah bangun sepagi itu untuk mengejar terbitnya matahari). Oh atau foto pantai. Ini yang selalu bikin saya pingin pergi piknik. Apalagi foto sunset di pantai, sudahlah kelar.

Lalu berapa kali kamu jadi kepengen pergi hanya karena liat foto dari temenmu, atau liat di timeline twitter, atau di iklan majalah traveling, atau di Instagram, dan tentu saja di Path? Saya sih sering banget. Walau ujung-ujungnya belum tentu pergi ke tempat yang kita liat itu. Mlipir dikitlaaah, liatnya foto Lombok, perginya ke Pangandaran. Gitcu. Yang penting ada pantai, laut, dan kesempatan memotret sunset. Liatnya foto hijaunya sawah di Ubud, perginya ke Garut. Begitulah kira-kira.

Kemudian saya menemukan hal yang cukup lucu. Waktu saya pergi ke waduk Jati Luhur di Purwakarta kemudian naik perahu menyebrangi danau, saya sempat memotret potongan perahu dengan langit biru ditambah dengan visual gunung dari kejauhan, cakep deh, Ketika foto itu saya upload, temen-temen pada nanya karena dikira saya pergi jauh karena pemandangannya bagus. Waktu saya mengambil foto itu, saya padahal harus ngepas-pasin kamera henpon supaya gambarnya pas bagusnya. Bukannya apa-apa, namanya juga Danau ya, ujungnya ga seluas laut kan, dan di deket situ ada tempat makan terapung yang kalau masuk frame foto, enggak banget kelihatannya.

Waduk Jatiluhur

Waduk Jatiluhur

Kedua kali saya sempat memotret sunset di sekitar Pamanukan. Waktu itu jalanan super macet, bukan sekedar macet biasa, tapi truk dimana-mana mengepulkan asap yang nggak ada sedap-sedapnya, motor berdesakan mencoba mendapatkan jalan diantara mobil-mobil yang berjajar. Diantara pemandangan ga enak ini, matahari tetep asik aja menjelang sunset, saya mengarahkan henpon saya ke atas, hanya ada sedikit bagian dari truk di bagian depan mobil saya yang tertangkap kamera, edit dikit, crop crop, voila! foto sunsetnya bagus.

Kejadian memotret sunset atau pantai juga sama aja, kadang-kadang pantainya biasa aja, bahkan ada yang kotor. Ya bagian kotornya jangan ikut difoto la ya. Miringkan henpon sedikit juga ga kena. Orang yang liat fotonya pasti mikir memang beneran bagus aja pantainya. Baru baru ini saya dikirim foto Biyan yang lagi main di lapangan rumput kompleks Angkatan Darat dekat rumah ompungnya. Fotonya bagus banget, dan kesannya lagi dimana gitu. Padahal kalo langsung liat sih ya disituuuuu belakang rumah, yang tempatnya biasa-biasa aja, yang panas bukan kepalang itu. Tapi berhubung angle ambil fotonya bagus, ya baguslah hasilnya. Pernah juga foto-foto di kuburan, ternyata hasilnya malah bagusĀ  :)))

Piknik di Kuburan

Piknik di Kuburan

Oh kadang-kadang ada juga keadaan begini, pantai lagi penuh-penuhnya, kalo difoto pasti ga bagus, palingan disangka lagi di Ancol. Triknya? Agak menjauh dari kerumunan orang, lalu tukang fotonya harus gesit, klik klik ambil foto saat ga ada orang melintas. Voila, hasilnya kayak lagi di private beach kan? Kejadian serupa saya alami waktu foto-fotoan di Wat Pho di Bangkok, kan tempatnya selalu penuh sesak tuh ya, sampe mau motret susah deh banyak orang dan mereka biasanya bergerombol gitu. Saya sempat ambil satu foto yang pas ga ada orang, sampe tau-tau ada temen nanya “kok bisa sih Wat Pho sepi?”.

Wat Pho

Wat Pho

Pernah juga saya pergi ke tempat yang beneran cantik pemandangannya, ke hampir setiap sudut mata saya memandang, nggak terlihat cacatnya. Pas difoto, hasilnya ternyata ga beda jauh sama yang perlu diedit dikit dan crop crop crop itu tadi.

Kemudian saya berpikir. Kayaknya hidup juga nggak pernah jauh-jauh dari yang kayak gitu ya. Kita menceritakan hal-hal yang menyenangkan yang terjadi pada kita sama teman-teman, mereka melihat betapa menyenangkan hidup yang kita jalani. Ada yang ikut seneng, ada juga kali yang udahnya jadi sirik. Tapi mungkin mereka nggak melihat ‘pemandangan’ jelek yang sempat kita crop sebelum kita ceritakan pada mereka. Ada air mata disana sini, ada susah hati yang cuma bikin malu kalo dikisahkan sama orang. Akhirnya cerita kita yang bagus aja yang muncul ke permukaan. Ada yang salah dengan itu? tentu saja enggak. Adalah pilihan kita kalau kemudian nggak mau menampilkan sisi buruk dari apa yang kita alami dalam hidup.

Saya pernah ditanya beberapa teman, katanya hidup saya nampak menyenangkan, nampak baik-baik aja, banyak jalan-jalan, banyak ngumpul-ngumpul sama teman. Saya cuma senyum aja waktu itu dan bilang “kalo bagian susah memang ga gw ceritain lah, ngapain, simpen sendiri, bagi ke teman saat ketemu di japri, bukan di tempat umum kayak Path atau Facebook”.

Ujung-ujungnya emang terserah sih, mau posting foto apa adanya, mau cerita soal hidup apa adanya, terserah kamu kok.

*kemudian kembali sibuk cropping foto*

Leave a comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

When You Love, You Love

Life is never about changing someone we love into a kind of person we want

Life is always about tolerating, accepting whom we love no matter they might be the contrary to the kind of person that we want them to be.

Expecting someone we love to change the way we want to be is the root of all misery.

And the failure of it is one full screaming hell.

 

But when we love, we love.

 

No matter how the hassle has driven us like crazy

No matter how many sacrifices we made in the name of love

When we love, we love

 

Love might be long lasting

Love might happen continually

But we might forget, love is also as weak as those leaves falling in fall

It may shine brightly like a sun in summer and provides you those jolly moments

It may drive you crazy like when you cant handle those windy days

It may be the reason why some rainy days are too shivery for you to handle

And when it happens, you know you gotta stop

4 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Vandroid T3X, Mainan Baru dari @Advan_ID

Terakhir kali saya memakai tablet untuk keperluan sehari-hari adalah kira-kira 2,5 taun lalu. Keperluan sehari-hari ini maksudnya adalah cek Path, cek Twitter, kadang-kadang buka Facebook, bales-bales email yang masuk ke inbox, dan kadang-kadang main game. Waktu ganti laptop dengan laptop yang lumayan ringan, saya berhenti menggunakan tablet, soalnya repot cin bawa tablet iya, bawa laptop iya. Sementara ukuran mereka ga terlalu banyak beda, laptop saya 11″ dan tablet saya waktu itu 10″. Dari sisi berat juga ga banyak beda, akhirnya saya tinggalkanlah si tablet itu di rumah.

Sampai satu waktu saya menemukan si tablet dari Advan ini, disebutnya Vandroid. Tepatnya Vandroid T3X. Pertama kali tablet ini saya pegang, saya udah naksir sama bentuknya yang sleek, warna putihnya, beratnya yang bersahabat, dan terutama adalah ukurannya yang cukup banget di 8,9″. Kemudian tentu saja mulai saya install macam-macam aplikasi. Sebagai sosmed freak, yang pertama saya install adalah Twitter, Path, lanjut Facebook dan Instagram. Selama ini saya cukup puas menikmati foto-foto cantik di Instagram lewat henpon aja, pas liat di layar ukuran 8,9″ ini langsung tambah ‘whoah’ gitu.

Vandroid T3X

Vandroid T3X

Dari sektor dapur pacunya, Vandroid T3X dilengkapi prosesor QuadCore 1,5 GHz, dibekali RAM sebesar 1GB dan masih ditambah dengan fitur Anti Lag 3D Games serta V Color Engine yang membuat performanya cukup hebat untuk menjalankan game 3D. Cocok buat kamu yang doyan main games. *tunjuk hidungnya satu satu*

Berhubung saya doyannya foto-foto makananm saya cukup happy dengan kameranya yang 8MP ini, kamera depannya juga cukup bener buat dipake selfie-selfie an. Biar foto makin cakep hasilnya, ada fitur autofocus dan LED flash light kalau harus motret di ruangan yang kurang cahaya.

Sejak bawa bawa T3X kemana-mana, ada hobby lama saya yang muncul lagi : nonton sitcom!. Iya, dari dulu kan saya hobby nonton sitcom ya, tapi saya emang kurang seneng duduk depan tivi. Si T3X ini bener-bener solusi deh, karena tinggal masukin file sitcomnya ke memory card, kemudian saya bisa nonton dimana aja. Termasuk di toilet, beneran. Memory Internalnya ada 8GB, externalnya bisa diisi sampe 32GB. Sedap, cukup bener buat naro file-file sitcom kesayangan saya. Dari sisi layar, nonton di T3X bisa dibilang hampir sama-lah dengan nonton di TV. Layarnya Full HD
(1929×1200) dengan mengunakan layar berjenis LCD IPS (in Plane Switching). Makin anteng megang tablet buat nonton ini sih.

 

 

Fitur lain yang terdapat dalam Advan T3X ini adalah HDMI (bisa buat presentasi di kantor tinggal connect ke TV di ruang meeting, HA!), TV analog, Radio FM, Bluetooth v4.0, mini USB, Dual Sim GSM, dan Wi-Fi tentunya.

Dan kalau kamu mulai sebel dengan gadget yang gampang banget abis batrenya, T3X ini lumayan lho, bisa dipake seharian tanpa harus numpang ngecharge dimana-mana, batrenya Li-Ion 6000mAh soalnya.

IMG_6796

 

3 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Octobuzz Invades Cirebon

Mau posting cerita jalan-jalan yang satu ini bimbangnya bukan main. Perihalnya begini, biasanya cerita jalan-jalan kan saya post di blog ini, cerita makannya baru saya post di surgamakan.com. Kan lagi musim spesialisasi, posting blog juga harus begitu dong. Nah, pas saya mau nulis soal jalan-jalan di Cirebon bareng team Octobuzz weekend kemarin, saya baru nyadar, lah ini jalan-jalannya isinya makan doang. Jadi entahlah sebaiknya diposting dimana cerita ini, disini apa di surgamakan.com. Mungkin kita posting di dua-duanya ajalah daripada bingung.

Jadiiiii, weekend kemarin saya bareng Biyan janjian ketemu di Cirebon bareng Bowo, Mas Rio, dan Paul. Saya dan Biyan naik kereta api dari Bandung, dan mereka naik kereta api di Jakarta. Nyampenya bareng, sekitaran jam 14.00. Ga pake nunggu lama, kami semua lompat ke mobil sewaan untung cari makan. Biyan sempet protes diajak makan karena dia sempet makan Nasi Ayam di kereta, tapi ternyata ga nolak dipesenin Sate Kambing, dan abis aja tuh nasi seporsi.

Invading Cirebon

Invading Cirebon

Eh cerita kereta dulu. Baru pertama kali naik kereta api ke Cirebon, perjalanan sekitar 4 jam. Lumayan nyaman karena ambil kereta eksekutif. Sebelumnya pernah ambil kelas bisnis kemana gitu, haduh kursinya aja nggak enak dipake duduk, jangan ngarep mau tidur. Harga tiket eksekutif 120rb per orang, dan untuk kelas bisnis sekitaran 60 ribu per orang. Nah kalo naik kereta dari Bandung ke Cirebon, pas di Cikampek kita akan ganti arah, jadi kursi di dalam kereta akan diputer supaya duduknya ga mundur (jadi inget pernah duduk mundur di dalam kereta perjalanan Butterworth-Kuala Lumpur selama 8 jam akhir taun lalu).

Begitu sampe Cirebon, kita langsung mengarah ke Pagongan, tempat ada Nasi Lengko enak, katanya. Eh ternyata beneran, enak banget. Saya sampe mikir, males ah makan Lengko di Bandung lagi, soalnya ga seenak yang kemarin.

Dari situ kita menuju ke Asinan Sinta, dimana katanya ada Es Duren enak, sambil beli oleh-oleh, sambil foto-fotoan, dan sambil ngikik ngikik ga jelas, seperti biasa.

Dan abis dari Sinta, kita masih ngejar makan

Mie Koclok

Mie Koclok

Nah kelar Mie Koclok ini akhirnya insaf, balik hotel dengan tujuan berenang. Dan ternyata tujuan berenang sendiri adalah biar cepet lapar, HA!

Berenang biar cepet laper

Berenang biar cepet laper

Abis berenang, kita langsung mandi dan menuju Seafood H Moel yang katanya berserakan di mana-mana. Baca : Cabangnya banyak. Sesuai saran orang hotel, kita ke yang cabang Cipto Mangunkusumo, dan pesen segala macem yang ada disitu. Dan Cirebon nampaknya surga buat orang yang doyan seafood (kayak kita) ya, seafood nya fresh, harganya mursid! Malam itu kita akhirnya makan Ikan Bawal Bakar, Udang Goreng Bakar Madu, Kepiting Hot Lady, Cumi Goreng Tepung plus Tumis Kangkung dan Kailan. Kirain ga bakal abis, ternyata da;am 30 menit kemudian, semua hilang tak bersisa *elus2 perut*. Kalo weekday socmed strategist, kalo weekend ngunyah strategist :D.

Besokannya kita bangun pagi, ga pake mandi (kecuali saya yang bangun kepagian), langsung ngibrit cari sarapan Nasi Jamblang di sekitar Pelabuhan. Yaampun deh enaknya pake banget. Dan makan nasi di atas daun jati memang selalu bikin tambah asik kan ya. Foto makanannya entar aja deh ya di surgamakan.com.

Dan akhirnya ada acara selain makaaaaaan : )). Ke Cirebon itu ya emang harus ke Batik Trusmi kan ya, masa engga :) . Dan belanja batik sama kolektor penggemar batik memang lebih seru dari biasanya. Biyan yang ga berkepentingan aja anteng banget! Keluar dari Trusmi tentu saja lapar dan nerusin makan sambil terus nganter saya dan Biyan ke stasiun karena jadwal pulang kami emang duluan.

Weekend yang menyenangkan memang selalu berlalu lebih cepat. Apalagi dilewati sama orang-orang yang seru, di tempat yang seru, ditemenin makanan yang seru juga. Janji jalan-jalan bareng ini sebenernya udah ada dari bulan Maret kemaren, tadinya sih mau ke Garut, eh kalau dadak-dadakan malah tau-tau kejadian.

Dan pergi bawa Biyan selalu ada cerita lucu yang bikin ngakak-ngakak. Misalnya seperti waktu kita diem di mobil dia mendadak “selama di Cirebon, paling enak makan seafood. Cupi Goreng Tepungnya paling enak sedunia”. Atau waktu moment #kemudianhening saat makan Empal Gentong tau-tau he came up with a million dollar questions “karena mama melahirkannya tidak normal, kan perutnya digunting. Kalau melahirkan normal, keluarnya dari mana?”. Yang lagi sibuk makan Empal Gentong mendadak sepi.

Biasanya, setiap pergi sama Biyan selalu aja ada hal yang bikin senewen, namanya juga anak-anak, kadang-kadang suka susah disuruh mandi, atau suka kesel di jalan jadi rewel, atau suka ngga mau nurutin itinerary yang kita susun. Eh kemarin pas pergi itu, si Biyan lagi manis-manisnya. Ga rewel, ga bawel, ga susah diajak kesana kemarin, bahkan nemenin mamanya belanja batik pake lama aja, dian anteng, ketawa2 muter2 ga jelas. Mungkin sih karena banyak yang nemenin. Di kolam renang, sampe keriput berdua ama Rio gara-gara kelamaan ga naek2. Di tempat batik cekikikan berdua sama Paul, di tempat makan seafood seru liat video penyu bertelur di henponnya Bowo.

Sudah kenyang (banget), mari kita pulang.

Sudah kenyang (banget), mari kita pulang.

Thank you Bowo, Mas Rio & Paul yang bikin weekendku dan Biyan seru kemarin :). Mwaks.

 

 

 

 

 

7 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya