Yang Katanya Food Blogger Padahal Cuma Tukang Makan

Screen Shot 2014-12-04 at 4.17.25 PM

Sudah sekitar 5-6 tahunan belakangan ini saya membiasakan diri menulis soal makanan yang saya makan. Bahasa kerennya : review. Tulisan-tulisan soal makanan ini tadinya ada di blog yang lagi kamu baca, tapi kemudian saya pindahkan ke SurgaMakan.com biar ga tercampur sama curhatan dan mumbling-mumbiling saya yang nggak jelas disini. Waktu Twitter mulai rame, saya kemudian suka posting singkat-singkat soal makanan di @SurgaMakan. Udah follow? Lho kok belum? Follow dong.

Karena suka nulis-nulis soal makanan, saya kemudian suka disebut Food Blogger atau pecinta kuliner dan sederetan istilah lainnya. Padahal buat diri saya sendiri, saya cuma seorang tukang makan. Teman saya @yohsandy pernah bilang kalau saya ini a foodie at heart. Kalau yang ini saya setuju, a foodie at heart I am. Saya ni kalau mikir mau makan sampe dipikir seriuuuuus pengen makan apa yang nggak cuma bikin kenyang tapi juga bikin lidah happy. Setiap mau pergi kemana gitu, yang selalu dipikir adalah “disana makan apa ya”. Saya mikir soal makanan dengan serius, sampe kadang jam 9 pagi udah sibuk mikir mau makan apa siang nanti.

Dengan predikat bahwa saya ini tukang makan, saya suka dapet pertanyaan beginian ;

“lho katanya tukang makan tapi kok makannya dikit”

Hehe, percayalah saya makannya ga dikit-dikit banget. Kadang makannya banyak, tapi ya sesuai porsi. Ga pernah sampe yang gimana banget banyaknya karena udahnya suka kenyang ga jelas kemudian rasa enak makanannya suka jadi ilang.

Sebagai tukang makan, saya juga termasuk suka pilih-pilih makanan. Yang jelas saya ga makan Pisang, Cumi, Ikan basah, aneka macam Cake, Kue Taart, Bolu dll. Ada temen saya yang bilang gini ;

“yeee katanya tukang makan tapi ini itu ga suka”.

Baru-baru ini sempat ada perbincangan hangat soal food blogger di twitter. Ada yang ngomel katanya food blogger suka kritik makanan tanpa memberikan saran yang membangun, yang ngomel juga ngomel soal food blogger yang suka kasih point makanan, misalnya “nilainya 7 dari sepuluh”. Lah dasar nilainya apa? Kemudian pembicaraan menghangat karena banyak yang ikutan ngomong. Katanya lagi, memberi pendapat soal makanan itu sebaiknya secara profesional, jangan secara personal. Padahal SurgaMakan (katanya) disukai orang karena nulisnya yang personal, yaiyalah karena kontributor SurgaMakan kan cuma saya satu-satunya. Dengan waktu yang tersendat mengejar update-an blog, saya memang sengaja nggak pernah ngajak orang lain untuk ikut menulis di SurgaMakan. Supaya blog ini tetap terasa sentuhan personalnya.

Ngomong soal food blogger akhirnya suka jadi inget pembicaraan dengan beberapa teman yang cerita beberapa food blogger yang katanya suka aji mumpung karena sering dapat undangan makan, yang gratis tentunya. Bahkan owner @steakholycow yang juga adalah teman chatting saya pernah cerita ada yang (so called) food blogger mengontaknya dan nawarin akan review produknya. Bukannya harusnya diundang ya? entahlah.

Saya kebetulan cukup sering dapat undangan untuk review makanan, baik dari restoran yang baru buka, atau yang lagi launching menu baru. Belakangan saya sering menolak undangan ini dengan 2 alasan, pertama karena jungkir balik ngatur waktu antara kerjaan, ngurus Biyan, dan istirahat (baca : marathon serial sitcom di rumah), alasan keduanya adalah saya nggak nyaman duduk makan ditanya-tanya ;

“enak ga? ada yang kurang? kurang apa?’

“enak ga? ga kalah kan sama restoran sebelah kan?”

Makannya jadi setengah setengah dong ya, kayak mau ditelen tapi ga berhasil-berhasil gitu.

Tapi ada satu kejadian yang membuat saya suka menolak undangan makan. Satu kali dapet undangan dari satu resto yang baru buka. Sambil nunggu makanan, si manager resto ngajak saya ngobrol. Lebih tepatnya nanya-nanya sih ;

“udah lama ngeblog soal makanan?”

“berapa banyak follower di twitter? Statistik blog gimana kunjungan hariannya?”

“apa bedanya surgamakan dot com dengan blog makanan yang lain?”

Semua pertanyaan saya jawab dengan asik sampe akhirnya beliau bilang gini “ga masalah sih kamu udah ngeblog berapa lama dan berapa banyak follower yang kamu punya. Yang jadi masalah berapa banyak follower kamu yang bisa kamu tarik makan disini dan bikin resto ini rame.

Bok, itu mah hire marketing manager kali jangan manggil kita yah.

Sejak itu saya jadi selektif urusan undangan makanan. Masih suka tetep dateng kok, kebetulan punya hubungan baik sama @infobandung, jadi kalau undangan datang dari mereka, biasanya saya mau, atau temen blogger lain yang ngundang dan emang udah kenal deket. Tapi jangan salah, tiap dapet undangan makan dari resto baru, saya selalu catat restonya, buat alternatif dine out sekali waktu nanti. Biasanya saya dateng unannounced, bukan sok penting, tapi supaya makannya ga ditanya-tanya mulu dan ngga ngerepotin dengan nggak bayar. Trus juga ga ada kewajiban untuk nulis kan ya, kalau saya suka, nulis, nggak suka ya udah :).

Urusan undang mengundang blogger untuk review makanan di resto memang susah-susah gampang. Buat saya yang sering jadi problem adalah waktu. Seringnya nggak bisa memenuhi waktu undangan yang ditentukan. Menurut saya, cara paling enak mengundang adalah kirim voucher. Blogger bisa datang in her convinient time, tanpa perlu ditongkrongin dan ditanya-tanya enak ga enak ga berulang kali. Yang punya resto juga ga harus meluangkan waktu untuk nemenin makan, kecuali memang pengen ketemu.

Saya memang ngga pernah nulis soal makanan yang nggak enak di SurgaMakan, bukan apa-apa. Selain enak dan nggak enak itu subjektif, bisa jadi saya pas sial aja tukang masaknya lagi bete misalnya sehingga makanannya ga enak. Tapi pernah ada kejadian gini : ada resto baru buka di Bandung, pas saya coba, eh makanannya ok. Tempatnya juga asik, trus saya nulis deh di SurgaMakan. Lalu saya kesitu lagi untuk kedua kali dengan jarak waktu yang nggak terlalu lama. Taunya waiting list, biasalah tempat baru di Bandung. Sayangnya yang ngatur waiting list nggak jelas aturannya, beberapa kali giliran kami dilewat begitu saja. Kesel? Iya. Ngomel di @surgamakan? enggak. Tapi begitu pulang saya hapus postingan soal resto tersebut.

 

31 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

#rawatgigiku Yang Makin Asik Dengan @ciptadentID

Saya (tadinya) bukan orang yang rajin sikat gigi malam-malam sebelum tidur. Selain karena suka kelupaan trus kalo udah selimutan jadinya suka lupa, saya juga suka makan ini itu sebelum menjelang tidur. Mohon jangan ditiru dua kebiasaan buruk ini : males sikat gigi dan suka ngemil menjelang tidur. Sejak punya anak, saya tentunya ingin menularkan kebiasaan baik pada anak saya dong ya. Jadilah saya mulai membiasakan diri untuk selalu sikat gigi menjelang tidur.

Menularkan kebiasaan ini tentu saja nggak gampang. Biyan masih suka males-malesan sikat gigi malam-malam dengan alasan udah enak bergelung di ranjang, atau alasan patennya adalah : dingin. Kebetulan rumah kami kan memang di sekitar utara kota Bandung, yang di malam hari dinginnya bukan main. Di sekolah Biyan selalu ada periksa gigi setiap enam bulan sekali, satu waktu kami mendapat laporan bahwa gigi Biyan ada yang bolong dan mesti segera ditambal. Wah wah, di umur Biyan yang waktu itu 6 tahun dan belum ada satu pun giginya yang tanggal, kita kaget juga mendengar kabar itu, sekaligus menyesal karena saya masih kurang bawel perihal sikat gigi sebelum tidur. Setelah urusan tambah menambal gigi ini beres, Biyan baru sadar pentingnya sikat gigi malam sebelum tidur.

Sejak itu saya jadi rajin cari-cari info soal merawat gigi. Salah satu sumber saya dalam mencari informasi adalah rawatgigiku.co.id. Website ini cocok banget buat ibu muda seperti saya yang ‘haus’ informasi soal kesehatan seperti saya. Disitu kamu bisa konsultasi langsung dengan ahli gigi, banyak FAQ (Frequently Asked Questions) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, bisa juga menyimak tips merawat gigi yang paling update. Berhubung anaknya juga sekarang lagi seneng buka-buka website dan mulai pinter googling-googling, saya suka mengajak Biyan untuk ‘ngacak-ngacak’ website ini. Biyan sih seneng karena banyak hal baru yang dia dapet. Saya seneng karena jaman sekarang ngajarin anak tambah mudah.

Dari saya kecil dulu, Ciptadent memang selalu jadi pilihan keluarga di rumah, juga ketika saya punya keluarga sendiri. Kalau dihitung-hitung berarti sudah lebih dari 25 tahun ya. Belakangan saya tambah suka pake Ciptadent karena mereka kan muncul dengan ‘wajah baru’ dengan teknologi dari Jepang. Tau dong Jepang, urusan teknologi paling maju, juga perihal perawatan gigi. Dua faktor ini digabungkan, bam! Teknologi perawatan gigi yang canggih punya, dari sisi pasta gigi maupun sikat giginya.

Untuk pasta gigi, favorit saya ini nih, :

Ciptadent Maxi White

Ciptadent Maxi White

Sementara untuk sikat gigi, favorit saya :

Flexi Clean

Flexi Clean

Saya suka Maxi White karena bikin gigi putih sexy dan sikat gigi flexi clean ini bisa membersihkan gigi sampe ke ujung2 tanpa melukai gusi, ujung kepala sikatnya ramping banget, suka deh.

Sebagai pelanggan setia Ciptadent, seneng banget kemaren dapet kiriman hampers Ciptadent, asli ga usah belanja keperluan merawat gigi sampe berbulan-bulan ke depan ini sih.

Hampers bikin happy

Hampers bikin happy

Thank you ya Ciptadent :)

Leave a comment

Filed under Kesehatan, Saya, Saya, dan Saya

Perihal Memaafkan

Sampai umur saya 20an dulu, saya masih takut deket deket kuda, karena sejak saya kecil, mama saya selalu bilang jangan berdiri sebelah kuda, nanti ditendang. Waktu saya bilang alasan saya nggak mau berdiri sebelah kuda karena takut ditendang, (mantan) pacar saya ketawa keras. Katanya, kuda itu nggak bakalan bisa nendang ke samping karena engsel kakinya cuma bisa memungkinkan gerakan ke depan dan ke belakang. Damn. Bener juga. 20 tahun hidup saya hidup dalam kebohongan, untung cuma urusan tendangan kuda, bukan urusan-urusan lain yang lebih penting.

Hari ini saya mendapati satu hal lain dimana seumur hidup ini saya merasa dibohongi. Kalau urusan kuda cuma 20 tahun, maka urusan yang satu ini memakan waktu 35 tahun lebih dan baru saya sadari sekarang. Perihal memaafkan.

Seumur hidup saya selalu mendengar tentang pentingnya memaafkan. Baru kali ini saya berpikir sebenernya kenapa sih kita harus memaafkan? Karena agama bilang begitu. Kalau begitu sejak saya memutuskan untuk tidak lagi beragama, saya nggak perlu memaafkan dong? Tapi tunggu, jangan bawa-bawa agama dalam hal ini. Bisa panjang urusannya. Kita bicara dari sisi hati saja.

Kamu pasti sering mendengar “memaafkan bukan berarti melupakan”, “memaafkan itu gampang melupakan itu yang susah”. Hari ini saya tau bahwa memaafkan itu ternyata sesulit melupakan. Kata siapa memaafkan itu gampang. Kecuali kalau maaf yang kamu maksud cuma urusan di mulut aja, itu lain lagi. Saya lagi ngomong soal maaf yang lain, maaf yang datang dari hati yang beneran tulus, maaf yang menghentikan semua pertengkaran yang pernah terjadi. Yang justru terjadi adalah kamu pikir kamu sudah memaafkan, nyatanya tidak. Tidak atau belum memaafkan, antara itu dua lah pokoknya.

Saking sering dicekokin pelajaran moral soal memaafkan, kita jadi lupa bahwa maaf adalah sepenuhnya hak kita. Nggak ada satupun orang yang bisa memaksa kita perihal memaafkan. Pendek kata, “mau gw maafin, mau engga, ya hak gw dong”. Saya bilang ini hak kita karena sebagai ‘korban’ perlakuan yang nggak menyenangkan, kita menanggung rasa yang nggak enak. Apakah itu sakit hati, tersinggung, marah, you name it. Kita yang dirugikan kok kita yang harus berbesar hati memaafkan. Kalau kamu mau memaafkan, tentu lebih baik dibanding saya yang memutuskan untuk melupakan perihal memaafkan kemudian memutuskan untuk walk away dan berusaha melupakan apa yang sudah terjadi walaupun melupakan juga adalah satu hal yang tidak mungkin.

Pemikiran ini tentu saja sudah melewati tahap debat bersama seorang teman dekat yang ngotot bahwa memaafkan itu bagian penting dalam hidup dan harus dilakukan. Kalau nggak trus kenapa? – bukan Shasya kalau nggak nantang. Lalu temen saya yang setengah malaikat dan setengahnya lagi bodoh ini bilang, “tidak memaafkan itu menghalangi energi positif dari dalam diri sehingga bla bla bla bla….”.

Masa bodoh dengan energi positif yang tersumbat itu tadi. Kalau dengan tidak memaafkan membuat kamu merasa lebih baik, so what. Just walk away, do anything that will make you feel better. Thats what life is about.

Postingan yang terdengar angkuh sekali, memang.

16 Comments

Filed under dan Saya, Saya

Memori Kurang Ajar

Dimana kamu satu minggu lalu?

Satu bulan lalu?

Satu tahun lalu?

Pertanyaan ini memang tidak akan ada habisnya kalau ditanyain terus. Saya sebagai mahluk melankolis romantis ini adalah korbannya. Untuk hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidup saya, saya bahkan ingat detail sampai memori soal baju apa yang saya pake saat itu. Apalagi urusan sepatu, inget banget kapan pake apa.

Sayangnya yang namanya memori yang datang nggak melulu soal yang bagus-bagus. Di beberapa hari dan tanggal tertentu mood saya suka mendadak berantakan tanpa bisa dikontrol. Padahal saya selalu survive yang namanya PMS. Dikontrol hormon sih kagak, yang ada dikontrol kenangan.

Jeleknya lagi, kenangan buruk muncul nggak cuma soal waktu. Jalan yang kita lewatin pas kita nerima berita jelek, foto-foto yang bermunculan di gallery handphone, atau foto yang muncul di berita, bahkan di twitpic, film yang bersetting di tempat yang kita nggak pernah mau kunjungi lagi saking buruknya kejadian yang pernah terjadi disana, lagu yang mengingatkan kita waktu kita lagi susah hati. Banyak, masih banyak yang mungkin membawa kenangan jelek dan membuat hati kita nggak beres dalam hitungan sekejap dua kejap.

Natal nggak pernah sama lagi untuk saya sejak ayah saya meninggal 2 hari setelah hari Natal 3 tahun lalu. Beberapa tempat cantik yang pernah saya datangi malah membuat trauma-trauma ga jelas. Salah satu jalan yang pernah saya lewati sambil dapet kabar ga enak adalah jalan yang setiap hari saya lewatin untuk pulang ke rumah. Apakah dengan saking seringnya saya lewat jalan itu kemudian lama-lama jadi kebas? Nggak juga tuh, sudah 3 bulan berlalu tapi sakitnya masih sama-sama aja.

Belum lagi beberapa orang yang tanpa sengaja selalu mengingatkan kita sama orang-orang yang justru mau kita lupain. Rasanya seperti dikepung kenangan. Sayangnya kenangannya buruk.

Lalu mau sampe kapan begini-begini terus? Karena ternyata melupakan bukan satu pilihan. Sepengen-pengennya kita melupakan satu hal buruk, belum tentu bisa. Yang ada semakin lama rasanya semakin ngeselin. Jadi kelihatannya kita tunggu saja sampai memori ini berhenti kurang ajar ya.

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Yang Namanya Patah Hati

Kalau hati sudah diserahterimakan apakah kita masih disebut korban ketika dia kemudian berkeping-keping?

2 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Tabula Rasa & Keheningannya

('minjem' dari 21Cineplex.com)

(‘minjem’ dari 21Cineplex.com)

Menyenangkan menonton film Indonesia belakangan ini. Kita tidak lagi dipaksa melihat akting pas-pasan seperti dulu. Akting yang bahkan kalau kita lihat di sinetron aja rasanya pengen banting tivi itu lho. Udah ga ada cin, yang main film sekarang canggih-canggih, mainnya natural, ngomongnya natural, kadang-kadang bikin kita lupa kalau kita lagi nonton film.

Semalam, atas saran seorang teman *melirik tajam pada yang bersangkutan*, saya pergi nonton Tabula Rasa. Saya suka nonton bioskop, tapi bukan penggemar berat. Meluangkan waktu 2 jam di bioskop untuk saya harus selalu ada alasan kuat. Banyak yang bilang, ini film tentang makanan, mungkin itu sebabnya si kawan, kita sebut saja namanya Nauval Yazid meminta saya nonton film ini. Toh semua tau saya emang tukang makan kan? Kan.

Di 30 menit pertama (dah hampir di 75 menit selanjutnya), alur film ini bergerak lambat. Bercerita soal Hans, si pemuda Papua yang merantau ke Jakarta demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pemain bola. Dalam rangka membuat cerita menjadi menarik, tentu saja cita-cita ini kandas di tengah jalan. Hans diperankan dengan asik oleh Jimmy Kobogau. Pendatang baru atau bukan, saya kurang tau. Aktingnya saya bilang asik karena di saat yang bersamaan saya bisa ngerasain kasian sekaligus sebel sama tokoh Hans.

Setelah disuguhi beberapa adegan menggambarkan betapa sulitnya usaha Hans untuk bertahan hidup di Jakarta, maka kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh lain di film ini. Ada Dewi Irawan yang berperan sebagai Mak, dan 2 pria lain yang kalau kamu pengen tau namanya bisa cek disini aja.

Sebelum nonton tentu saja kita sudah mendengar garis besar film ini : seorang pemuda papua yang gagal mewujudkan mimpinya, malah kemudian jadi tukang masak di sebuah tempat masakan Padang. Yang aneh apa? Satu, tadinya dia pemain bola, kedua dia bukan orang Padang. Tapi justru setelah dia yang masak, kedai itu jadi ramai lagi setelah sebelumnya sepi pengunjung. Jadi cerita yang menarik kan dengan dua keanehan ini? Iya harusnya sih.

Kalau kamu nggak suka kekerasan, kamu mungkin akan suka film ini. Pasalnya, setiap ada konflik, redanya selalu cepat. Konflik digambarkan dengan debat sejenak, kemudian adem lagi. Kalau saya nggak salah, mungkin ada 5-6 kali adegan semacam ini. Cocok buat kamu yang nggak suka liat orang berantem. Pada ademnya cepet cin. Temen nonton saya semalam bilang “filmnya hening ya”. Dan saya pun angguk-angguk setuju.

Balik ke soal ‘film ini soal makanan’. Saya agak berharap banyak sih, berharap lebih banyak adegan dan dialog yang menggambarkan betapa pentingnya rasa makanan bagi lidah orang. Saya juga berharap banyak filosofi yang diangkat makanan itu sendiri. Tentu saya juga berharap banyak adegan yang secara visual menggambarkan Masakan Padang dari proses sampai jadi dihidangkan di atas meja. Bukannya nggak ada sih, ada kok visual gimana proses masak ini dilakukan di dapur, walaupun didominasi oleh proses menumbuk cabe dan bawang yang kemudian saya bayangkan ditambah terasi kemudian jadi sambel khas masakan Sunda. Kamu juga mungkin akan jadi pengen makan Rendang setelah berulang kali melihat Hans mengaduk santan di kuali besar dengan api dari kayu, bukan dari gas karena masak Rendang itu apinya harus kecil dan mengaduknya harus sabar dan pas.

Konflik terbesar di film ini mungkin ketika Mak tiba-tiba sakit dan masuk rumah sakit sehingga Hans harus masak sendiri di dapur. Tentu saja masakannya seenak masakan Mak, namanya juga pemeran utama, harus jagoan. Tidak lama kemudian, Mak keluar dari rumah sakit dengan jalan sedikit pincang, lalu kemudian masalah selesai.

Bagaimana dengan masalah si Hans sendiri? Apakah akhirnya dia jadi pemain bola seperti cita-cita awalnya? Atau kemudian dia jadi juru masak Masakan Padang ternama? Atau kemudian dia pulang kampung halaman dan buka restoran Padang disana dan kemudian sukses? Kalau mau tau ya kamu harus nonton sendiri.

Oya, satu hal penting ketika nonton Tabula Rasa adalah ternyata Hot Peach Tea nya XXI enak ya, cobain deh. Pas sama dinginnya gedung bioskop, apalagi saya kelupaan bawa pashmina semalam.

7 Comments

Filed under dan Saya, Saya

Jangan Nolak Kalau Diajak ke Derawan

Bukan Shasya kalo postingannya ga terlambat. Kali ini cerita jalan-jalan ke Derawan kemarin. Sebelum meneruskan cerita, nanti saya dikasih tips apa kek gitu biar ga telat mulu nih postingannya, terutama postingan soal jalan-jalan karena ujung-ujungnya banyak yang udah lupa pas mau ditulis karena kelamaan.

Liburan Lebaran kemarin, seperti tiga per empat warga Path saya pergi liburan. Tumben karena biasanya saya nggak suka pergi saat Lebaran, biasanya tiket kemana-mana mahal, dimana-mana penuh. Tapi kali ini karena ajakan yang sudah saya ceritakan sebelumnya disini, maka pergilah saya ke Derawan.

Sebelum Derawan, tentu kita mampir dulu di Balikpapan kan. Tadinya sih mau langsung-langsung aja karena toh Balikpapan bukan tujuan utama, tapi kemudian tergoda dengan cerita enaknya Kepiting, maka kami memutuskan untuk stay 1 malam di Balikpapan, demi nyari makanan enak. Cerita soal enaknya makanan di Balikpapan udah saya ceritain lengkap disini . Ada Kepiting (tentunya), Bubur Samarinda, dan Soto Banjar yang kemudian jadi kesukaan saya.

Besok paginya kami terbang ke Berau dari airportnya Balikpapan yang cakep itu. Dan sampai Berau, juga terpesona sama airportnya yang lumayan keren buat ukuran kota sekecil itu. Kalau dibandingkan dengan airport di Bandung, duh :D.

Bandara di Berau

Bandara di Berau

Dari Berau kami menempuh 3 jam perjalanan pake mobil menuju dermaga sebelum menyeberang ke Derawan. Di tengah perjalanan sempat berhenti makan siang (yang agak telat) dan ternyata cuma satu-satunya tempat jualan makanan sepanjang perjalanan dari bandara ke dermaga.

Sampai di Derawan, jujur aja saya agak kaget. Tempatnya tidak seindah yang saya lihat di foto. Bahkan di pesisir pantainya banyak sampah, sayang banget, padahal lautnya biru banget dan adanya water cottage bikin pemandangannya makin asik.

Derawan

Derawan

Derawan sendiri buat saya hampir seperti Pangandaran dengan skala yang lebih kecil, di belakang pantai dan jejeran cottage, ada satu jalan utama yang penuh dengan yang jualan makanan, jualan baju, dan sewa sepeda. Makanannya asik-asik, banyaknya sih seafood tapi untuk yang alergi atau ngga suka seafood, banyak juga yang jualan Ayam, Gado-gado, sampai Indomie. Yang langsung jadi favorit saya adalah Jagung Bakar, tiap malem harus beli meskipun sebelumnya beres makan Seafood.

Pemukiman di belakang pantai Derawan

Pemukiman di belakang pantai Derawan

Naik sepeda keliling pulau adalah salah satu hiburan yang harus dikerjain selama di Derawan. Sewa sepeda 20ribu per 1,5 jam. Tadinya saya pikir kok mahal ya, mengingat di Gili Trawangan sewa sepeda seharian sampe besokannya aja cuma 35 ribu. Tapi mendapati Biyan kesenengan naik sepeda disana, 20 ribu rasanya oke-oke aja, ketambahan sepedanya banyak yang baru, so it was ok. Jadi inget setaun lalu waktu saya liburan berdua Biyan ke Penang, dia masih harus dibonceng bonceng sampai mamanya kecapean secara anaknya gendut kan yah. eh di Derawan kemarin dia kan sudah bisa naik sepeda sendiri, sepedaan berdua jadi makin seru :)

Kiri : Penang, Kanan : Derawan

Kiri : Penang, Kanan : Derawan

.

Hiburan lainnya di Derawan, tentu saja melihat penyu bertelur. Malam terakhir kami disana akhirnya berhasil nontonin satu ekor penyu yang lagi asik bertelur. Dalam semalam, penyu bisa bertelur sampai ratusan butir, telurnya ‘diamankan’ petugas konservasi biar ga menetas ga ketauan, lalu dimakan ikan atau binatang lain ketika tukik (anak penyu) mencoba balik ke laut.

.

Hiburan lain di Derawan? Tentu saja berjemur :)

IMG_7962

Ke Derawan tentunya tidak lengkap tanpa mengunjungi 3 pulau lain yang terkenal satu paket dengan Derawan itu : Sangalaki, Kakaban, dan Maratua. Oh ada tambahan satu lagi, Pulau Gusung yang kalau pas pasang dia menghilang alias terendam air laut. Masing-masing pulau cantiknya lain-lain. Liat deh cantiknya Sangalaki hari itu,

Di Sangalaki juga ada resort tempat menginap. kalau kamu lebih suka suasana yang lebih sepi, Sangalaki lebih cocok untuk bermalam dibanding Derawan. Kalau saya menemukan seekor penyu bertelur di Derawan, di Sangalaki katanya bisa ada 40 ekor penyu bertelur dalam satu malam. Saya sih kebayangnya kalau jalan bisa sampe kesandung2 kali ya. Selain jemur-jemuran asik, anak-anak kota ini kesenengan liat tukik yang baru pada menetas,
IMG_7636
Tukiknya memang lucu menggemaskan sih ya :)

(fotonya punya Diani)

(fotonya punya Diani)

Kemudian Kakaban, pulau yang jadi istimewa karena di tengahnya ada danau dimana ada jellyfish yang karena tidak beracun maka bisa diajak berenang-renang. Lucunya, pas nyebur sih ngejar2 ubur-ubur, tapi pas mereka nempel di kaki trus malah kaget. Banyak yang nanya “jellyfish nya susah dicari ga? banyak ga?”. Jellyfish nya banyak banget sampe nggak usah dicari! Ukurannya ada yang gede, ada yang kecil-kecil.

Yang harus dilakukan di Kakaban selain main sama jellyfish? Tentu saja motret jembatan dermaga yang fenomenal itu. (fenomenal dalam arti difoto dan diupload oleh semua orang :D)

IMG_7815

Tadinya sih dari Kakaban kita mau langsung ke Maratua tapi katanya ombaknya nggak memungkinkan jadi kita mampir sebentar di Pulau Gusung. Pulau ini sih nggak ada apa-apa, cuma asik aja buat foto-foto, tidur-tiduran, dan ngeliatin sunset.
IMG_7788
IMG_7793
IMG_7807

Untung masih punya satu hari untuk sengaja mengunjungi Maratua, yang ternyata adalah yang paling cantik diantara pulau-pulau yang lain. Ada resortnya juga kalau kamu mau nginep disini. Lain kali mungkin perlu dicoba sengaja nginep di Maratua, 2 hari aja. Asik juga kan kalau tiap bangun pagi pemandangannya kayak begini

IMG_7878
IMG_7875

Yang bisa dikerjain di Maratua selain foto-foto? Berjemur lagi tentunya :). Yang doyan snorkeling, juga bisa disini, beneran tinggal loncat aja dari dermaganya.

IMG_7902

IMG_7972

Berhubung perjalanan ini asik-asik aja alias banyak rencana yang muncul di tengah jalan, maka selain foto-foto dan menikmati Maratua Resort yang cakep itu, kita juga sewa mobil pick up dan kemudian menyusuri hutan menuju daerah Payung-Payung dimana udahnya kita nemu yang namanya Goa Jimangku. Duduk di pick up, makan nasi kotak sambil ketabok-tabok ranting pohon memang memberikan pengalaman tersendiri, asik banget. Sebelum sampe Goa Jimangku, kita jalan di pesisir pantai yang langitnya sebiru foto-foto yang biasa kamu liat di kartupos.

IMG_7932

Goa Jimangku kemudian ‘dinobatkan’ Biyan sebagai tempat paling asik selama jalan-jalan kemarin. Gimana ga asik kalau bisa berenang di laguna kayak gini,

IMG_8044
Untuk menambah kadar keasikannya, saya sempet loncat dari atas, mungkin jaraknya 6 meteran. Tadinya sempet ngeri sih, tapi ngebayangin nyeselnya kalo nggak loncat, ya loncat juga akhirnya. Oiya ini fotonya punya Diani juga.

Di perjalanan pulang menuju Maratua Island, saya mendapati pemandangan ini dari pick up yang melaju lumayan kencang

IMG_7942

Oya, di jalan menuju Maratua, boat sewaan kami sempet berhenti di tengah karena tiba-tiba banyak lumba-lumba bermunculan! Huah seru banget. Sebenernya saya lebih seru mengamati muka Biyan ketika lumba-lumba itu muncul. Dia teriak-teriak kesenengan, boat sampe mau oleng rasanya. Waktu dulu diajak liat lumba-lumba, manatee dan segala macem di River Safari Singapore rasanya nggak kayak begitu girangnya. Memang lain sih liat binatang di kebun binatang dan di habitat aslinya ya :)

IMG_8020

Biar postingan ini lebih berguna daripada sekedar bikin pengen ke Derawan dan pulau-pulau lain itu tadi, ini adalah beberapa tips alias #lifeguide kalau kamu berencana pergi kesana :

1. Kalau kamu nggak tahan laper atau bawa anak kecil, bawa bekal makanan (roti dll) di tasmu, karena di beberapa tempat kita bisa susah cari makanan.
2. Kalau kamu suka tempat yang rame dan cari apa-apa gampang, menginaplah di Derawan. Pilihan tempat nginepnya banyak macamnya, dari cottage sampai homestay, harganya tentu beragam juga.
3. Di Derawan nggak ada ATM (kecuali ATM Bank Kaltim), jadi bawalah uang yang cukup buat makan dan jajan-jajan disana
4. Harga baju di Derawan agak mahal dan kualitasnya biasa banget, jadi kalo ga kepaksa atau kepingin bawa buat suvenir, sebaiknya sih jangan beli disana.
5. Kalau males bawa toiletries, selama perlu yang standar-standar kayak sabun shampoo dll sih disana ada.
6. Kalau sewa boat sendiri (atau ikut tour), pastikan sudah pergi dari pagi, sayang waktu yang terbuang kalo saling tunggu-tunggu. Percayalan yang paling asik dari pergi ke Derawan adalah kegiatan Island Hoppingnya, pergi kesiangan artinya bisa-bisa kehilangan kesempatan mengunjungi pulau-pulau cantik di sekitar Derawan.
7. Pergi rame-rame tentu akan lebih ekonomis dibanding pergi sendiri, soalnya sewa boat sehari kan lumayan mahal, jadi mendingan bayar rame-rame toh?

Wuih, postingan blognya pake tips segala kayak udah ahli jalan-jalan aja :D.

3 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya