Category Archives: Family

Happy New Year, Survivors.

Yang namanya waktu kan memang tidak pernah bersedia menunggu. Secepat apapun kita bergerak, dia bergerak lebih  cepat lagi, konstan pula. Mungkin itu sebabnya kita terus menerus bilang “gila ya ga kerasa udah tanggal segini lagi”. Well kecuali kalo lagi nunggu gajian yang waktu suka berasa agak lama.

Hari ini, 31 Desember 2012, juga termasuk tanggal yang tau tau ada depan mata seperti tanpa aba-aba. Rasanya baru kemarin taun baruan, ih sekarang udah mau taun baruan lagi aja.

Apa saja yang dilewati selama 2012? Some concerts, bunch of new friends, senang deh :) .

Yang nyebelin? alhamdulilah ga terlalu banyak. walaupun bisa dibilang ya pasti ada.

Eh taun 2012 ini punya kerjaan baru. Lumayan menyenangkan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Taun ini juga menyadari bahwa ada hal yang memang tak perlu dipaksakan, ada beberapa hal yang memang harus dilepas tanpa disesali jauh-jauh.

Travelling ke beberapa tempat membuat 2012 ini juga tambah menyenangkan. *senyum lebar sampe kuping*

2012 juga membawa sedikit pemikiran bahwa kadang2 gila sedikit itu perlu untuk membuat hidup lebih berwarna :)

Iya, 2012 membuat hidup saya jauh lebih berwarna dari sebelumnya.

Yang sempat berpikir bahwa 2012 adalah tahun yang berat, well we survived kan, once again :) .

Selamat taun baru ya survivors. Semoga 2013 membawa banyak hal baik buat kita semua.

2 Comments

Filed under Family, Greetings, Kerja, life, Saya, Saya, dan Saya

#30treatsbefore30-nya @indikawetjes

#30treatsbefore30 adalah proyek manisnya salah satu sahabat saya, @indikawetjes alias Indira Bayurini, alias BUBU nya kita semua. Jadi intinya, sebelum ulang taun ke 30, Indi berniat masakin temen-temennya masakan apa aja SESUAI REQUEST. Tawaran ini sempet dilempar di Twitter, dan berebutanlah kami semua untuk daftar dan ngajuin makanan yang dipengen, karena jatahnya kan cuma 30 orang aja.

Saya pun sempet “booking” tempat, tanpa tau mau pesen makanan apa. Udah mikir agak lama, saya baru kepikir “Cingkong Kepiting” and Indi was like “whaaaatttt is thaaaaat???”. Kalau waktu itu kami lagi ketemuan langsung, saya pasti udah angkat bahu, “gw ga tau masaknya, cuma doyan doang, lo google ajah”. Berhubung percakapan dilakukan via bbm, maka adegan angkat bahu diatas dapat diabaikan.

Tenggat waktu untuk #30treatsbefore30 ini tinggal kira-kira seminggu lagi, kita panik-panik ga jelas karena ternyata saya belum bisa ke Jakarta dan Indi belum bisa ke Bandung. Akhirnya, karena pentingnya proyek ini, maka disepakati bahwa Cingkong Kepiting akan dikirim lewat travel dari Bintaro ke Bandung, oh yay!

Kata Biyan, thank you Bubu :)

Dan hari itu akhirnya gedumbrangan ngambil Cingkong Kepiting ini ke travel jam 9 malem dalam keadaan belum makan. Perfecto. Sampe rumah, panasin bentar, duduk di meja makan, dan NYAMS! enak lho Bubu!

Biyan ikutan heboh karena denger cerita bahwa harusnya ada 7 Cingkongnya, tapi diminta Caya 1 karena “Caya mau  makan yang ada jingga-jingganya itu”. Kata Biyan, “jadi 6 untuk kita dan 1 untuk Caya?”, sambil angguk-angguk puas.

Yang mau baca cerita Indi dan #30treatsbefore30 nya, boleh mampir ke sini (walaupun banyak update yang belum masuk nampaknya *pecut Bubu*)

Sekali lagi, terima kasih ya Bubu, seru banget proyek ulang taunnya :)

5 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, Makan Minum, Sahabat

Biyan (dan selera musiknya)

“Ma, kata Biyan sih lebih enak Man in The Mirror versi Michael Jackson daripada versi Adam Levine ya”

-Biyan, 4 yo-

5 Comments

Filed under Cinta, Family, life, Musik

Rumah Belajar Semi Palar

Ini kenapa jadi kebiasaan bangun pagi dan nagih posting blog ya. Bagus deh ya. Besok pagi kalau bangun sepagi ini lagi kita coba lari pagi. Apa aja asal lebih produktif dari kemarin kemarin. Resolusi? Boleh sebut saja begitu. Kalau nanti tengah jalan berhenti mohon jangan disebut resolusi gagal. Sebut saja haluan berubah. Okay?

Ada yang memang mau diposting sejak kemarin-kemarin sebetulnya. Tapi biasalah ibu menteri kan sibuknya segunung *sasakan*.

Mau cerita soal sekolah Biyan. Jadi per Juli 2011 kemarin kan Biyan sudah mulai sekolah (jadi tulisan ini tertunda selama….hmm…. 6 bulan – keterlaluan).

Biyan sekolah di satu sekolah yang namanya Rumah Belajar Semi Palar. Setiap ada yang tanya sekolah dimana dan saya jawab, reaksi yang biasanya saya dapatkan adalah kerutan kening, lalu pertanyaan standar, dimana itu, sekolah apa, dan lain-lain. Maklum, sekolahnya bukan sekolah “tenar” yang semua orang pasti tau, dan bukan pula sekolah “favorit” yang rata-rata ibu-ibu pengen menyekolahkan anaknya disana.

Terus kenapa saya pilih sekolah ini?

Karena begini, selama saya kecil sampai saya usia SMA, saya bersekolah di sekolah yang homogen. Jelasnya, saya sekolah di sekolah kristen yang (hampir) semuanya dari kalangan chinese. Merasa nyaman? Jelas, karena saya kan chinese, jadi merasa berada dalam lingkungan sendiri. Ketika saya masuk kuliah, sebetulnya tempat kuliah saya masih dari lingkungan serupa. Namun di tahun-tahun terakhir kuliah saya mulai banyak bergaul dengan teman-teman yang berasal dari lingkungan adat, suku, dan agama yang berbeda. Ini ternyata menyenangkan, dan saya rasanya lebih bisa menerima banyaknya perbedaan yang ada di sekitar saya.

Maka saya menginginkan hal yang berbeda untuk Biyan. Saya ingin, sejak kecil dia merasakan dan mengalami bahwa ada banyak perbedaan di luar dengan dirinya sendiri, dan itu tidak aneh, apalagi salah. Rumah Belajar Semi Palar tidak berdasarkan suatu agama, karenanya murid-murid yang bersekolah disitu pun berasal dari banyak kalangan agama dan suku. Untuk saya, inilah cara mengajar toleransi paling efektif buat anak-anak, masukkan mereka ke dalam lingkungan yang heterogen. Bagaimana bisa mengajar anak-anak untuk bertoleransi kalau kiri-kanan-depan-belakang semua beragama sama, berlatar belakang sama, dan beradat sama? Seperti yang saya rasakan dulu jadinya, cuma teori. Syukur-syukur ada yang berhasil mengerti dan menjalankannya dalam kehidupan, sisanya (sorry to say), cuma teori.

Sejak pertama kali datang untuk open house dan mendengar penjelasan ini itu soal Rumah Belajar Semi Palar, saya jatuh cinta. Saya bahkan tidak mencari perbandingan sekolah lain (khas saya kalau sudah senang akan sesuatu). Sekolah ini menamakan dirinya Rumah Belajar karena mereka memang menciptakan suasana itu untuk anak-anak. Sampai sekarang. kalau ditanya “Biyan belajar apa di sekolah?”, biasanya dia diam saja, lain halnya kalau ditanya “Biyan main apa di sekolah?”, maka ceritanya akan mengalir soal apa saja yang dikerjakannya hari itu.

Rumah Belajar Semi Palar menyediakan suasana yang santai sehingga anak-anak merasa betah dan ga merasa wajib pergi ke sekolah. Biyan pergi ke sekolah mengenakan sendal jepit kesukaannya, sampai sekolah dibuka dan dia  lari kesana kemari tanpa menggunakan alas kaki, semua anak-anak begitu. Ini memang bukan hal pokok, tapi salah satu cara menciptakan suasana santai, anak-anak juga merasa lebih nyaman dan ga merasa terkungkung.

Hal lain yang saya suka dari Rumah Belajar Semi Palar adalah komitmen mereka untuk melibatkan kita sebagai orang tua untuk ikut serta dalam proses pembelanjaran anak-anak. Saya sebagai orang tua yang bekerja memang kadang-kadang repot membagi waktu antara pekerjaan dan urusan sekolah ini. Tapi kalau mau kan pasti bisa, maka saya (hampir) selalu hadir di acara-acara yang diadakan disana.

Tidak ada yang lebih penting selain anak kita yang betah selama kita ‘menitipkan’ mereka di sekolah, walau ‘baru’ 2 jam sehari. Di Rumah Belajar Semi Palar, saya mendapatkan ini. Biyan betah, saya pun tenang :)

1st day at school

1st day at school

dia malah tidur :) )

for a month or so, Biyan thought this Mischa girl is the prettiest girl in school

Kalau pengen tau lebih banyak soal Rumah Belajar Semi Palar, siapa tau mau ikutan sekolahin anaknya disitu, coba cek blognya. Ada banyak cerita anak-anak yang bikin gemes :)

 

 

26 Comments

Filed under Family, life

A Pleasant Journey

Aaaah blog apa ini kok banyakan dianggurin daripada diurusinnya :) Belakangan berbagi kepala dan hati dengan www.surgamakan.com. Proyek pribadi yang urusannya ga jauh-jauh dari makanan, kesukaan saya :)

Jadi kemarin pemilik blog berdebu ini berulang taun. 33 sekarang umurnya. Kira-kira sebulan sebelumnya saya udah menyebut-nyebut angka 33 ini sering-sering dalam hati. Mungkin hanya perasaan saja kok 33 ini bedanya serasa jauh dari 32 ya. Padahal bedanya tentu hanya 1 tahun, ya seperti waktu beranjak dari 31 ke 32 dulu.

Mungkin berasa sedikit  lebih tua karena dalam 1 tahun ini banyak sekali hal yang dialami, ya walau taun-taun sebelumnya juga sih. Yang jelas ada beberapa hal besar yang terjadi taun ini, misalnya Biyan sudah mulai sekolah. Saya sebagai orang tua merasa naik ‘kelas’. Anaknya udah sekolah lagi aja, hooray! Walau nggak bisa setiap hari anter jemput anak sekolah, saya menikmati setiap cuilan cerita Biyan di sekolahnya. Dan baru sekolah sebentar aja nambah pinternya udah banyak. Saya bangga :)

Yang kedua di perihal rohani. Bukannya baru, tapi banyak hal mengenai iman dan kepercayaan yang berseliweran menari-nari di kepala saya. Tak ingin banyak cerita, tapi katakanlah I have a very colorful life about this thing.

Ketiga, Friends. Teman. Family by choice. World without strangers is definitely  the world I dont wanna live in. Karena these strangers have became my friends. Some of them are always there to talk to, some of them even provide their shoulders for me to cry on. And some of them have became my family, by choice. You know who you are. Berbagi cerita, senyum, tawa, air mata, dan rahasia. Tak pernah mengira ini semua akan menghangatkan hati sampai sebegini.

Tidak pernah ada hidup yang sempurna, saya percaya itu. Pun hidup saya sendiri. Ada kurang disana-sini. Ada salah dimana-mana. Tak terhitung banyaknya salah langkah, salah ucap dan salah pikir. Di sisi lain, tak terhitung juga kasih sayang, berkat dan karunia yang dilimpahkan buat saya. Walau tidak persis 50-50 antara susah dan senangnya, namun semua saya anggap seimbang. Senang terus nggak bakal bikin kita tambah pinter dalam hidup ini. Dan susah terus kan cuma bikin sengsara, bukan ?

My life, is a 33 years of a pleasant journey.

6 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, life, Sahabat

There it Goes

Si waktu memang tidak pernah kompromi. Tau-tau satu tahun berlalu dan saya udah ulang taun lagi aja. 31 tahun hari ini.

Dan entah kenapa, kali ini saya ngga punya keinginan untuk merayakan dengan sesuatu yang istimewa, makan malam keluarga misalnya. Tadi pagi mama saya udah tanya2 mau makan keluar atau masak di rumah. Saya berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi fitness saja sepulang kerja nanti. Tidak perlu ada perayaan apa-apa, karena saya sedang tidak ingin. Kebetulan suami juga punya kegiatan yang ngga bisa ditinggal hari ini, maka saya akan merayakan ulang tahun istimewa ini dengan mesin treadmill saja :) .

Banyak kali, sebaiknya kita nggak ribut pengen yang istimewa, untuk saya, melakukan apa yang saya mau, adalah yang istimewa justru.

Meskipun awal tahun sedikit demi sedikit berlalu tanpa resolusi berarti, dalam hati saya tau apa yang saya mau. Banyaknya rencana dan harapan masih bergelantungan. Tidak ada mimpi yang lebih besar kecuali untuk membuatnya menjadi nyata satu per satu nanti. Tunggu saja.

Lalu saya berpikir apa yang sudah saya punya ketika menginjak umur 31 ini. Wah, awal tahun ini begitu banyak berkat yang dicurahkan untuk saya dan keluarga. Sementara melihat ke kiri dan ke kanan, saya bersyukur betul, kami, keluarga besar masih bisa bersama-sama terus meskipun waktu untuk berkumpul kian mahal harganya.

Katanya memang jangan pernah menakar dan mengukur berkat yang sudah disiapkan untuk kita. Saya tahu betul itu. Karena di perjalanan saya ini, begitu banyak berkat yang sungguh di luar dugaan, di luar perkiraan, dan di luar perhitungan saya.

Dan diluar semuanya itu, saya bersyukur punya kamu disini. Tetaplah disini, supaya hari-hari ini nggak cuma berasa normal, tapi selalu istimewa di setiap hadirnya.

Happy birthday, me

12 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, life, Sahabat, Saya, Saya, dan Saya

Natal. Tahun Ini

Postingan dibuka dengan helaan napas panjang karena tanpa sadar saya serasa dilangkahi waktu. Tahun ini berlalu dengan saat cepat, super. Belum apa2 tau-tau udah tengah taun, belum apa2 tau-tau Biyan umurnya 2 taun aja. tau-tau udah mau Natal, dan blast! 2009 nya abis deh.

Sama seperti tahun lalu, Natal kali ini buat saya (masih) belum terasa aroma religiusnya. Yang terasa saat ini cuma ricuh beli kado Natal, dan juga ditambah kerjaan yang, ya ampun, berantakan. Too many things to do, waktu dan mood cuma tinggal sejengkal. Alhasil ga nyampe kemana-mana.

Tahun ini, saya memposisikan diri untuk tidak terlalu terlibat dalam acara-acara keluarga. Baik keluarga saya maupun keluarga tetangga. Keluarga suami, maksudnya. Tahun ini rasanya ingin sekali boleh egois, doing my things, what I like, what I want. Memutuskan untuk tidak datang ke ritual keluarga seperti tahun tahun sebelumnya. Kalau boleh jujur sedikit, ada banyak ini itu yang membuat saya merasa kumpul keluarga di hari Natal menjadi tidak lebih dari sekedar kumpul-kumpul aja. Dan tahun ini, saya tidak mau melakoni itu semua. Tahun ini saya mau melakoni skenario saya sendiri.

Di sisi lain, saya merasakan peran yang begitu besar dari teman-teman. Sejak dulu, saya memang suka ‘mengagungkan’ peran teman dalam setiap sisi kehidupan saya. Di saat susah, saat sedih dan saat suka, ada teman yang selalu menyertai. Terutama tahun ini.

Saya kemudian merancang beberapa christmas dinner bersama beberapa teman dekat. Yang sudah 100% jadi, saya bakal makan malam bersama seorang teman baik dari jaman SMA. Anaknya hampir seumur Biyan. To make it merrier, kami merencanakan tuker kado untuk anak-anak. Cuma kami berenam saja, dia dengan suami dan anak, begitupun saya. Selain itu, via twitter saya juga mengundang seorang sahabat lama to have at least a decent christmas dinner. Gonna be fun. Without agenda, without any omel-omel or manyun-manyun. Can’t wait !

Sementara itu kehidupan rohani saya sama sekali tidak bergerak ke arah yang lebih baik. Saya juga tidak mau memaksakan diri terlalu keras. Mari berjalan saja dan lihat kemana kehidupan ini mengarah. Yang penting saya sama sekali tidak punya niat jahat menyakiti siapapun yang ada di sekitar saya. Terlalu sering saya melihat mereka yang mengarahkan hidup ke arah vertikal dan tidak mengimbanginya dengan menjalin hubungan baik dengan mereka yang bersejajaran horizontal dengannya. Terlalu sering saya mendengar ini itu di gereja, tapi diluar gereja, uhm, well… Hari ini apdet status katanya lagi di gereja, tapi besok ketemu manyun pura-pura nggak kenal :) . Hari ini apdet status ayat alkitab, besoknya becandaan jorok, ha !

I’m not proud of being not so much into christianity. Tapi buat saya, ada hal yang juga perlu dijalin, hubungan dengan kiri dan kanan kita. Sumpah deh, bikin eneg kalo bolak balik ke gereja tapi semua orang dimusuhin. Memang mainnya sama malaikat apa ? :)

Ah well, saya sudahi saja, daripada nyinyir-nyinyir ga jelas. Merry christmas to you all, may the blessing of christmas be with you and whole family.

8 Comments

Filed under Family, life, Saya, Saya, dan Saya

A Cute Boy For You, An Angel For Me

Biyan236

my angel

This cute boy might be just a cute boy for you

But for me, he’s my everything

A light to lighten my dark phase

An energy booster

A reason to stand still

There will never be enough words

To show what I feel inside

All I know, he’s a grace

And I’m grateful

To see his smile every day

To hear his funny voice

To feel his chubby cheek on mine

To have him in my life

Again, i’m grateful

I rarely say this, I know

But I thank You, Lord

9 Comments

Filed under Cinta, Family, life, Saya, Saya, dan Saya

Ceritanya Liburan

As some of you may know, liburan lebaran kemaren, saya dan Biyan berkesempatan pergi ke Makassar. Kenapa Makassar, karena ini bukan sekedar liburan biasa, tapi berhubung papa nya Biyan yang memang lagi tugas sementara disana dan kemaren belum bisa pulang, jadilah kita pergi.

Waktu ditawarin pergi pertama kali, saya agak-agak ciut hati juga. Bukan apa-apa, perginya kan berdua Biyan aja, sementara papa nya udah duluan di Makassar. Perrgi bawa anak seumur Biyan itu bukan perkara gampang. Lebih lagi, nggak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Makassar, jadi saya dan Biyan harus mampir dulu ke Jakarta dengan keadaan arrus balik yang membuat perjalanan Bandung-Jakarta yang harusnya bisa cuma 2.5 jam, harus jadi 5 jam. Memang sih akhirnya 2,5 jam pun sampe ke Bandara, tapi akhirnya kita berdua malah harus nongkrong di bandara sekian lamanya.

Nunggu berdua Biyan di bandara, bukan hal yang gampang. Dia itu super ga mau diem, alhasil saya sibuk berat jagain dia sambil juga jagain tas bawaan saya. Dan jangan lupa, bawa anak bawaannya ga sedikit lho, di tas saya sedikitnya ada 4 botol susu, selimut, jacket, mainan, makanan kecil, susu, pampers, dll. Belibet bener deh pokoknya. Isi tas saya kali menyerupai mini market terdekat rumah anda, hehe

Setelah nunggu selama 3 jam setengah, akhirrnya kita masuk juga ke boarding room, hanya untuk tau bahwa flight di-delay sampe satu setengah jam kc depan. Haduh, asli lemes yang ada. Padahal perut laper banget, tapi bener-bener nggak mungkin untuk keluar makan lagi dengan bawa Biyan dan bawaan itu tadi. Dan keduanya, sama sekali nggak mungkin saya titipkan pada orang lain toh?

Tapi semuanya terlewati juga, penantian hampir 5 jam akhirnya tuntas juga, menjelang maghrib, Biyan dan saya terbang. Ini perjalanan Biyan paling jauh (sebelumnya, paling jauh cuma ke The Ranch, Lembang).

1. Tidak seperti yang dikhawatirkan bahwa Biyan bakal bosen di jalan, ternyata begitu masuk travel ke Bandara, Biyan tidur pulas sampe akhirnya bangun pas nyampe bandara. Begitu juga di pesawat, belum take off dia udah pulas, dan bangun tepat saat landing. Saran teman untuk ngasih obat tidur kayaknya beneran nggak berguna, seperti mamanya, dia kebluk abis !

bobo terus

bobo terus

2. Saya beruntung banget, Biyan itu nggak pernah susah makan. Di bandara dia makan perkedel kentang sama ayam sama nasi, lahap. Pas nyampe makan mie titi, ngga kalah lahap. Waktu breakfast di hotel nyaris sepertifood paradise buat dia, secara banyak banget kesukaannya, cerreal, kue2 manis, omelette, dan kerupuk! :D . Selama jalan2, Biyan juga nggak pernah nyusahin. Diajak makan baso, lahap, apalagi waktu diajak makan ikan dan udang bakar.

breakfast, kegiatan favorit

breakfast, kegiatan favorit

3. Jalan-jalan bawa anak tidak memungkinkan saya untuk nampil gaya2an. Yang ada, pake baju yang rraktis, pake tas yang segala masuk, dan pake sepatu yang enak dipake jalan. Matching ga matching urusan kedua (ehm, to be honest, ini milih bajunya susah bener, karena selama 4 hari jalan harus matching terus dari baju, sepatu sampe tas, hehe).

4. Jalan sama Biyan, juga nggak memungkinkan saya pake baju ‘asal’ seperti waktu liburan.Kata ‘asal’ disini bisa diganti penggunaannya dengan baju yang ‘minim’ seperti yang biasanya saya lakukan kalo liburan di tempat panas seperti ini (kayak yang sering aja deh!). Walaupun ada suami, disini saya dan Biyan jalan kemana-mana berdua, suami kan kerja. Dan jalan2nya juga naek becak lho yaaaa…. pengalaman pertama Biyan naek becak, seru :)

5. Bawa Biyan ke pantai, eh dia males kalo kena2 air, katanya nggak mau kalo kakinya basah, yuk…. hahaha…. ini anak suka dikasih tau jangan kotor2an akhirnya keterusan, pegang pasir juga ogah. Alhasil pulang dari pantai, masih rapi dandanannya :)

ga mau deket air, kotor !

ga mau deket air, kotor !

6. Bukan ngga pengen ketemu2an alias kopdar sama blogger2 Makassar, tapi liburan kemarin saya memang pengen total bareng Biyan setelah selama ini saya banyak tinggalin dia. Disini, total semua waktu saya, selalu bareng sama dia. Kalo saya berpaling sebentar aja, wifi-an, dia langsung sibuk coret2 karpet hotel dengan crayon nya. Mama saya bilang, itu maksudnya cari perhatian :)

It was a blast. Seneng bener menghabiskan waktu banyak berdua Biyan, Karena kemana2 berdua, dia nggak pernah sempet ditinggalin, selalu diajak biar cuma ke apotek samping hotel juga. Masa iya mau ditinggal di hotel sendirian kan. Mandi pun suka bareng2, padahal di rumah nggak pernah2nya. Dan saya ngakak abis waktu dia teriak, “wah, penis mama ilang!!”. :) )

9 Comments

Filed under Cinta, Family, Saya, Saya, dan Saya

Happy Birthday, Biyan

Biyan

Biyan

Happy birthday Biyan, tetaplah membuat Mama tersenyum ya.

12 Comments

Filed under Cinta, Family, Saya, Saya, dan Saya