Yang Merasa Motivator Nggak Usah Baca.

Kalau dihitung-hitung kelihatannya sudah 7-8 tahun saya tidak suka lagi duduk depan TV dan menikmati tayangannya. Alasannya macam-macam, salah satunya karena tayangan TV lokal sudah lama tidak dapat lagi menarik perhatian saya sebagai pemirsa. Tapi kan ada TV cable ya, dimana bisa nonton sitcom ini itu yang selalu jadi kesukaan saya, tapi toh nggak ditonton juga. Kemudian alasannya agak menyalahkan Biyan, anak saya satu-satunya itu. Kare TV di rumah selalu dimonopoli olehnya, mamanya nggak kebagian. Kebetulan saya juga nggak punya TV di kamar.

Continue reading

6 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Kenapa Harus @lokal_id dan Bukan yang Lain

Mau cerita soal Hotel Lokal yang lagi hits di Jogjakarta itu, yang sempet jadi omong-omongan karena tempatnya asik dan yang gambar-gambarnya sempat mewarnai timeline Instagram karena designnya memang sangat instagram-esque gitude.

Continue reading

4 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Daripada Jadi Penyakit

Kita merasa diri lebih baik daripada orang lain. Percayalah saya pun merasa begitu. Setiap lihat ibu-ibu yang lari-lari di playground nyuapin anaknya, saya mencibir dalam hati sambil membatin “salah sendiri anaknya ga diajarin kalau makan itu harus duduk bukannya lari-lari”. Ketika saya melihat perempuan lain yang lagi susah parkir, saya kemudian berbangga hati karena saya dikenal jagoan kalo parkir mobil.

Kemudian saya kena batunya sendiri. Saya menemui ada beberapa orang yang merasa kalau saya ini bukan istri yang baik karena saya tidak pernah mencuci dan menyetrika baju suami saya. Saya kemudian dibilang bukan ibu yang baik karena saya sering ninggalin Biyan untuk main sendiri. Baik itu duduk-duduk lama di cafe sendirian, atau pergi ke Jakarta karena urusan kerjaan (kemudian dibarengi main-main), atau bahkan kadang-kadang saya suka pergi main ke Bali, misalnya tanpa mengajak Biyan.

‘Tuduhan’ ini ada yang diungkapkan langsung depan muka saya, ada juga yang disampaikan ke pihak ketiga, keempat, kelima dan seterusnya tanpa diungkapkan langsung ke pihak kedua, yaitu saya sendiri.

Tentu saja kemudian saya berpikir walau yang ginian biasanya ga terlalu jadi isu. Saya memang tidak pernah mencuci dan menyetrika baju suami saya. Jangankan baju suami, baju saya sendiri aja nggak pernah saya cuci sendiri kok. Mau bilang males, boleh, mau bilang saya ngga menjalankan kodrat sebagai istri dan sebagai perempuan, boleh juga. Saya tidak pernah merasa kodrat saya sebagai perempuan berkurang hanya karena saya tidak bisa nyetrika baju. Sekali waktu saya pernah tanya suami saya apakah dia keberatan perihal istrinya yang ga pernah cuci-nyetrika-beres2 rumah ini. Dia ketawa ringan aja dan bilang “sejak sebelum menikah dulu aku tau kamu nggak akan pernah melakukan itu semua tapi lihat aja dimana kita sekarang”.

Buat saya itu cukup menjelaskan.

Ada laki-laki di luar sana yang memang mengharapkan dilayani istrinya sedemikian rupa sampe urusan cuci-nyetrika-pasang kancing kemeja dll dll harus dikerjain istrinya. Ga jauh-jauh, papa saya begitu kok orangnya. Tapi ya terserah, suami saya nggak begitu.

Saya nggak bilang saya istri sempurna. Saya bilang, saya istri yang cocok untuk suami saya.

Jalan-jalan buat saya tidak selalu harus sama Biyan. Kadang-kadang saya perlu jalan-jalan dan main dengan teman-teman. Agendanya, tentu lain dengan agenda saya kalau main sama Biyan. Saat saya mengajak Biyan berlibur, dia adalah rajanya. Saya menyesuaikan itinerary sesuai dengan keperluan dan maunya dia. Saya mengikuti dan memberikan gambaran aja ; kalo kesini kita gini gini gini, kalo kesana kita gina gina gina. Begitulah kira-kira.

Kemudian apakah saya menjadi ibu yang nggak baik untuk Biyan?

You tell me

Hidup saya ini memang banyak kurangnya. Saya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anak, juga sebagai teman saya memiliki segunung kekurangan, selaut kesalahan. Kesalahan yang saya buat secara tidak sengaja maupun yang sengaja.

Saya mungkin nggak bisa jadi ibu yang baik buat anak orang lain. Se nggak beres-nggak beresnya saya, saya tau saya ibu yang baik untuk Biyan, anak saya satu-satunya. Saya tentu saja nggak bakal bisa jadi istri yang baik untuk laki-laki lain selain suami saya, tapi manalah saya peduli karena saya nggak menikah sama orang lain. Saya punya banyak salah sama orang tua saya sedari kecil. Tapi tanyalah ibu saya apakah saya anak yang baik untuknya.

Saya punya ratusan teman (bahkan menurut facebook sih ribuan). Apakah saya bisa jadi teman yang baik buat semua orang? Tentu tidak. Ada orang yang menerima kekurangan saya dengan tetap menjadi teman yang baik buat saya. Ada orang yang merasa saya tidak mempunyai kualifikasi yang baik sebagai teman karena kualitas hidup saya ada di bawah kualitas hidupnya sendiri. Yang gini-ginian saya syukuri saja ketimbang jadi penyakit.

8 Comments

Filed under Saya

Mengintip Sunrise (sekaligus Borobudur) dari Puthuk Setumbu

Ada yang bilang Puthuk Setumbu, ada yang bilang Punthuk Setumbu. Berhubung mirip-mirip, pilih yang mana aja yang enak buat kamu.

Kalau saja nggak perlu bayar ratusan ribu untuk mengintip sunrise dari borobudur, tempat ini mungkin ga bakal didatangi banyak orang seperti sekarang. Yes, termasuk saya. Belum pernah sih, tapi saya denger, untuk melihat sunrise dari Borobudur, kita harus bayar Rp. 150.000 untuk wisatawan domestik dan Rp. 300.000 untuk wisatawan asing. Mayan mahal kan ya. Lagipula ngintip sunrise kan ga asik kalau sendirian, nah mau abis berapa jadinya?

Makanya waktu menginap di sekitaran Borobudur kemarin, saya berencana mau liat yang namanya Puthuk Setumbu ini. Posisinya ada di barat daya Borobudur katanya. Apakah nyarinya gampang? Ga susah sih, ada beberapa petunjuk arah. Yang bikin susah adalah nyarinya kan masih gelap sekitar jam 4 pagi dan kita dikejar waktu sebelum matahari terbit. Hotel waktu itu nggak menyediakan informasi yang cukup jelas, cuma bilang, naik ke bukit belakang Borobudur. Akhirnya saya mengarahkan mobil ke depan Borobudur, dan setelah 3 detik bengong, ada bapak-bapak pake motor menawarkan menunjukkan jalan ke Puthuk Setumbu dengan syarat “gantiin uang bensin aja Mbak”.

15 menit kemudian kami tiba di area parkir Puthuk Setumbu, parkir udah mulai susah waktu itu, maklum lagi liburan long weekend. Bayar tiket Rp. 15.000 untuk turis lokal dan Rp. 30.000 untuk turis asing. Saya hampir dikenakan Rp. 30.000 karena seperti biasa, disangka turis dari Hongkong :D.

IMG_8880

15 ribu kemudian hiking ala cross country sedikit, sekitar 20 menitan (tentu saja ini tergantung sama kecepatan kamu sendiri), dan akhirnya tiba di sini, dimana semua orang pegang kamera dan menunggu matahari terbit,

IMG_8889 IMG_8891

Pagi itu matahari terbitnya malu-malu, kayaknya karena malamnya ujan gede banget. Tapi area Puthuk Setumbu ini memang pas buat membidik sunrise. Selain itu, Gunung Merapi dan Candi Borobudur juga keliatan dari kejauhan. Dalam keadaan berkabut pun saya dapet foto yang lumayan cakep :

IMG_8942

Kamu bisa liat Borobudurnya dari kejauhan?

10 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Perlengkapan Perang Anti Kecewa

Anak kita lahir tanpa persiapan untuk dikecewakan. Orang tuanya juga kok. Siapa juga yang dari lahir siap kecewa? Ndak ada. Kalau kemudian kita bisa biasa-biasa aja menghadapi situasi saat dikecewakan, toh karena banyak latihan. Banyak contoh kasus sehingga lama-lama jadi biasa. Continue reading

5 Comments

Filed under Cinta, Family

Masih Soal Food Blogger dan Segala Macemnya

Masih soal food blogger alias tukang makan ni ya. Kemaren-kemaren kan saya pernah posting soal food blogger dan ini itunya disini. Kalau waktu itu saya nulis dari sisi saya sebagai tukang makan yang kadang-kadang diundang me-review resto, sekarang saya mau coba nulis dari sisi yang punya resto, atau pedagang makanan online. Continue reading

13 Comments

Filed under Just a Thought, Makan Minum

Bali Lagi Bali Lagi

Siapa sih yang nggak suka Bali ya kan. Saya suka banget karena Bali bisa dibilang perpaduan yang pas untuk memuaskan hasrat ‘pengen liburan tanpa mikir harus pake baju apa, ga harus dandan dan bisa sendal jepitan’ dengan ‘liburan ini pengen dress up trus duduk di tempat yang lagi happening ah”. Kebayang kan ya? Di Bali bisa duduk sampe bego di pantai beralaskan kain bali, minum bir kalengan, atau air mineral botolan yang dingin kalau udah kelamaan berjemur, bisa juga dandan cantik lengkap pake catok rambut, lipstik yang hits dan mata berbinar, kalau perlu pake fake eyelashes (yang mana sampe sekarang saya belum bisa pakenya). Di Bali bisa makan di pinggir jalan tapi nikmatnya keterlaluan, pake keringetan pula. Bisa juga duduk di tempat makan yang cantik, selain makan bisa menikmati pemandangan baik interior si resto atau pemandangan di luar restonya. Yang pasti dua-duanya memiliki nilai instagram material. Continue reading

14 Comments

Filed under Saya