To a Dear Friend

I’m sure you remember those times when we used to laugh together?
I cherish those moments as I cherish having you in my life

But do you remember those difficult times when we didn’t get along with each other?
Like when I had no time for you because of work, or new friends, or when I just want to be alone?
And when you started to do some stupid mistakes and I said how stupid you were.

One thing you might forget is when I told you that you are going too far and I’m afraid you wouldn’t be able to come back even if you want to, is that these helping hands are ready to catch you in case you’re falling.. These ears are for you anytime you need them, this heart is fully open for you because you know I love you too much to be careless. Yes, though I know you will be hurt because of your own mistake.

One thing you have to be sure about me that I will not leave you just because of what you chose to face. I will give some space, as much as you need one, to give you a chance so you will see with your own heart that I do care of you.

And together we will fix what’s broken, I will walk with you during the process. Yes it will be hurt I know, but I’m sure it’s just a phase.  Because I’m sure that you, my dear friend will be smiling again like you used to do. And we will have those time we’re gonna cherish together again.

6 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

The 5 Years Old Me

Waktu menulis ini saya membayangkan lagi duduk bersama seorang teman baik, yang mungkin sudah mengenal saya selama bertahun-tahun dan tau bener seluk beluk (alah) kehidupan yang lagi saya jalani. Kami mungkin sedang duduk di sebuah coffee shop dengan design interior yang cakep. Maklum, Bandung lagi kaya akan coffee shop cantik. Duduk ngopi padahal sebetulnya alergi kafein, seperti sudah menjadi kebutuhan.

Saya kemudian akan memesan Teh Panas, atau kadang-kadang Creme Brule rasa Caramel. Teman duduk saya yang sudah-sudah selalu memesan kopi. Espresso, Piccolo, atau Cappucinno. Di umur yang hari ini persis mencapai tiga kali putaran shio kambing, saya bisa membayangkan teman baik saya ini mulai membombardir saya dengan ratusan saran yang mau nggak mau harus diakui kebenarannya.

`1. Umur udah banyak, sudah waktunya berhenti menghabiskan energi buat hal-hal yang ga perlu. Misalnya sebel sama orang. Dan bikin seneng orang sementara orangnya asik-asik sendiri.

2. Harus mulai fokus sama apa yang mau dikerjain, jangan pengen ngerjain banyak hal tapi akhirnya ga selesai semua

3. Pinter-pinter bagi waktu, supaya lebih produktif

4. Jangan apa-apa pake hati karena hati ujung-ujungnya suka bikin susah sendiri

5. Jangan gampang bikin janji kalau udahnya nggak bisa memenuhi

6. Ga usah ngulang-ngulang pergi ke tempat yang sama terus-terusan, masih banyak tempat baru yang belum pernah dikunjungi (baca : ga usah bikin rencana ke Bali taun ini)

7. Kalau susah, nggak usahlah sok sok belajar memaafkan

8. Berhenti ngulang-ngulang kesalahan yang sama, life is too short

9. Beberapa orang memang ngga usah diarepin jadi baik, bukan tugasmu juga bikin orang jadi baik

10. Berhenti berharap permintaan maaf dari orang yang nggak ngerasa salah.

11. Nggak usah sekali-kali lagi beresin masalah besar sendirian. Orang-orang yang ada di sekitar kita memang disediakan untuk menolong saat sedang kesusahan kok

Kemudian saya akan memesan Onion Rings, ga lapar tapi pengen ngunyah. Juga supaya keliatan sibuk biar teman saya ini nggak nambah-nambahin lagi list jangan ini jangan itunya.

Happy birthday, self. Be as happy as the 5yo you.

IMG_4851

5 Comments

Filed under Cinta, dan Saya

Ngapain ke Belitung, coba?

Kadang-kadang liburan yang asik itu liburan yang mendadak dan ga kebanyakan rencana memang. Seperti waktu tau-tau pergi ke Belitung kemarin itu. Intinya sih cuma karena pas Biyan masih libur sekolah dan rencana pergi bulan Februari ditolaknya mentah-mentah karena anaknya nggak mau bolos sekolah untuk pergi jalan-jalan (beda banget sama ibunya, memang).

Di luar dugaan, Belitung ternyata sangat menyenangkan dan cocok buat jadi tempat liburan keluarga, karena :

1. Gak terlalu jauh

2. Aksesnya mudah

3. Nggak terlalu mahal baik tiket menuju kesana atau segala sesuatu pas udah disana.

Gak terlalu jauh, yes terbang dari Jakarta cuma 55 menit aja. Baru sempet merem bentar, eh udah sampe. Aksesnya mudah karena untuk nyampe ke tempat cakep itu ada penerbangan langsung, ga kayak ke Derawan yang memang cakep tapi aksesnya sedikit lebih ribet (walau tetep worth it).

Nggak terlalu mahal, kemarin harga tiket 1.1PP pake Citilink, bisa dicek perbandingannya antara Sriwijaya, dan juga Garuda. Setau saya cuma 3 maskapai ini yang melayani rute Jakarta-Tanjung Pandan.

Trus apa aja yang bisa dikerjain di Belitung (selain makan karena makanannya enak-enak?). Btw, cerita soal makanan di Belitung udah saya posting duluan di SurgaMakan, tentunya.

Pertama, main ke yang namanya Pantai Tanjung Tinggi, sekitar 20-30 menit dari Tanjung Pandan. Belakangan dikenal dengan nama Pantai Laskar Pelangi, ada pula plang namanya disana, “Pantai Laskar Pelangi”, katanya. Dan biasanya turis yang dateng suka foto-foto di depan sign itu. Dinamakan Pantai Laskar Pelangi tentu saja karena pernah salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi yang dulu happening berat itu. Itu lho, adegan yang bikin terpesona karena pantainya cantik sekali dengan batu-batu besar. 8 tahun lalu waktu saya nonton Laskar Pelangi, pengen banget liat langsung pantai ini. Dan kejadian akhirnya.

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Kedua, Sunset-an di Pantai Tanjung Pendam. Pantai yang satu ini, posisinya ada di tengah kota Tanjung Pandan. Sayangnya, ini bukan tipe pantai yang kamu bisa celup-celup seperti di pantai lain. Tapi banyak yang bisa dikerjain di area pantai ini. Misalnya niak odong-odong. Atau bergabung dengan anak-anak muda disana, nongkrong pinggir pantai sambil makan pempek. Sayang sekali nggak ada jagung bakar. Padahal saya selalu pengen makan Jagung Bakar di pinggir pantai seperti yang pernah saya kerjain di Canggu dulu. Selain cemilan pinggir pantai, di area Tanjung Pendam juga ada beberapa kedai makanan yang cukup serius jualan Sea Food atau makanan lain.

Odong Odong!

Odong Odong!

Sunset di Tanjung Pendam

Sunset di Tanjung Pendam

Ketiga, main ke Museum Kata Andrea Hirata. Yang satu ini sungguh di luar dugaan, disaranin teman saya, Pino untuk main kesini, saya waktu itu cuma iya-iya aja tanpa ekspektasi tinggi. Lokasinya lumayan jauh pula. Lebih dari sejam dari Tanjung Pandan untuk sampai sini. Melewati jalan luar kota yang tentu saja bikin ngantuk tuk. Tapi ternyata tempatnya menyenangkan bangeeeeeet. Bentuknya rumah sederhana gitu yang dindingnya dipenuhi karya Andrea Hirata.

Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata

Rumahnya sederhana, tapi nggak kecil ya. Ada banyak ruangan dan rumah itu ga pendek, tapi panjaaaang ke dalam. Tiap ruangan didekor dengan materi yang berbeda, tapi tentu saja ga jauh-jauh dari wordings nya Andrea Hirata. Ada foto dimana-mana. Kalau kamu dulu fans nya Andrea Hirata sih pasti seneng ada disini.

Museum Kata Andrea HIrata

Museum Kata Andrea Hirata

DSCN0966

Di tengah rumah ada kedai kopi kecil, Kopi Kuli namanya. Bisa duduk duduk disitu bersebelahan sama kompor kopi yang cuma pake kayu bakar. Wangi kopinya menggoda sampai saya yang biasanya alergi, tergoda pesan satu cangkir. Ada cemilan kacang dan lain-lain juga buat nemenin ngopi. Di sisi rumah ada satu ruangan lagi, lengkap dengan panggung yang katanya sering dipake kalau ada acara disitu.

On top of everything, I wish you were here

On top of everything, I wish you were here

IMG_3853

Di bagian belakang rumah, ada juga tiruan sekolah SD Muhammadiyah Gantong, itu lho sekolah si Ikal di Laskar Pelangi. Ukurannya lebih kecil dibanding tiruan sekolah yang pernah dibuat khusus untuk syuting dan nggak pernah dibongkar sampai sekarang dan malah jadi salah satu objek kunjungan wisata turis.

Replika SD Muhammadiyah Gantong

Replika SD Muhammadiyah Gantong

Oya saya sempet nanya kenapa sih Museum Kata ini dibuat disini, jauh gitu lho. Ternyata dibangun khusus berdekatan dengan rumah orang tua Andrea Hirata, oyah that explains all dong ya. Nama jalannya sekarang Jl. Laskar Pelangi.

Di jalan yang sama, kita diajak juga mampir ke rumahnya Pak Ahok. Beneran rumah keluarganya sih ya, masih ditinggalin sama keluarganya, jadi nggak boleh masuk juga, kita cuma mampir sampai toko batik yang ada di halaman rumahnya.

Keempat, yang paling asik dari perjalanan ke Belitung ini tentu saja Island Hopping. Hari pertama naik perahu, kita langsung mau menuju Pulau Lengkuas. Sayang sekali ombak nampak ga bersahabat (ya salah sendiri perginya kok tanggal segitu Shas), akhirnya balik arah dan kita mampir ke yang namanya Pulau Kepayang. Ninggalin sendal di perahu, kami berloncatan masuk pulau.

Pulau Kepayang

Pulau Kepayang

Jalan kaki lumayan lama, 15 menitan dan sampailah di pantai yang cakep banget. Dari sini, keliatanlah Mercu Suar IL Enthoven ngedadah-dadahin dari jauh. Di pulau ini ada juga penangkaran penyu, anak-anak pasti seneng liatnya, apalagi boleh gendong-gendong pun. Di tengah pulau ada semacam kafe yang sedia makanan dan tempat berjemur, asik banget.

Pantai di Pulau Kepayang

Pantai di Pulau Kepayang

Esok harinya, ga pake kapok, kita nyoba lagi nyamperin Pulau Lengkuas. Walau ombak masih tetap terhitung tinggi, kali ini akhirnya kita nyampe juga ke depan mercu suarnya.

Approaching Pulau Lengkuas

Approaching Pulau Lengkuas

Setelah cuci kaki, ninggal sendal, kami kemudian masuk ke mercu suar berlantai 17 ini.

Inside the lighthouse

Inside the lighthouse

Dalemnya panas ya cyin, tapi semangat naik sampai lantai teratas untuk liat (dan ngambil foto dengan panorama mode) gambar pulau dari puncak mercu suar. Walau deg-degan takut henpon kelempar ke bawah, akhirnya dapet juga foto ini :).

View from the Lighthouse

View from the Lighthouse

Selain naik mercu suar, satu hal yang paling asik dikerjain di Pulau Lengkuas adalah berjemur dan main air. Apalagi waktu itu pantai sepi berasa punya sendiri.

Kalau kamu nanti berkesempatan island hopping di Belitung, kayaknya harus mampir juga ke yang namanya Pulau Babi, Pulau Burung dan pulau-pulau lain. Sewa perahu untuk island hopping ini kira-kira 450 ribu per harinya. Jangan berangkat terlalu siang supaya punya waktu untuk mengunjungi beberapa pulau.

Kalau masih punya sisa waktu, boleh juga mampir ke yang namanya Danau Kaolin, walaupun emang ngga bisa ngapa-ngapain, paling liat danaunya dan foto-foto aja.

IMG_3993

Danau Kaolin

Trus gimana caranya kita kesana kemari di Belitung? Sewa mobil cin. Dengan harga 500ribuan, kamu udah dapet mobil+driver+bbm, bisa dipake dari pagi sampe malem. Setelah biasa nyetir sendirian kemana mana di Bali, liburan di Belitung sambil disetirin orang ternyata enak juga. Yang bikin seneng adalah di Belitung nggak pernah ada macet, jadi nyusun itinerary lebih gampang karena ga harus memperhitungkan macet sana sini.

Oh hotel, kemarin sih saya di Aston. Pilihan lainnya ada Lor In, kalau mau buka pintu langsung loncat ke pantai Tanjung Tinggi. Bisa juga di Grand Hatika, yang keluar pagar hotel bisa langsung nyebrang ke kawasan Pantai Tanjung Pendam. Pas saya kesana, MaxOne Hotel baru aja dibuka, harusnya bisa dapet harga yang ga terlalu mahal dengan standar hotel yang lumayan deh kalau di MaxOne.

Dan foto-foto Belitung seperti biasa ada di Instagram @pashatama yes.

Jadi kapan kita ke Belitung lagi? Hmm?

5 Comments

Filed under dan Saya, Saya

Satu Masalah Selesai

Selama ini, saya belom pernah merasa akan jadi se-emak-emak seperti postingan berikut ini. Waktu pertama kali blogging kan karena patah hati, ya. Jadi kirain isi blog ini selamanya akan urusan cinta-cintaan dan cerita patah hati. Tapi kali ini saya mau cerita soal musuh abadi saya selama 7 tahun ini. 7 tahun artinya ya sejak punya anak sih.

Yes, seperti halnya ibu-ibu senusantara, sejak anak saya lahir saya sudah mengibarkan bendera perang sama yang namanya nyamuk. Nggak usah semacam nyamuk Aedes Aegypty yang bawa-bawa demam berdarah, sama nyamuk-nyamuk biasa pun saya benci setengah mati karena:

Anak Bentol

Emang sih, anaknya sekarang udah gede, jadi udah bisa ngerasa kalau ada nyamuk-nyamuk nakal mulai mengganggu. Eh, tapi ya Bu, yang namanya anak mah, biar udah bisa ngerasain juga kalau lagi asyik nonton tv atau main game, suka diem aja deh kalau ada nyamuk mendekat. Ntar udahnya baru berisik gatel, trus digaruk sampe lecet, terus meninggalkan jejak yang nggak enak dipandang di kulit. Belom lagi kalau digigit nyamuknya pas lagi tidur. Itu mah ibunya juga nggak kerasa, apalagi anaknya.

Eh terus yaaaaaaa dari obrolan ibu-ibu rempong lainnya saya dapet info tentang Vape yang cuma sekali semprot disebut One Push Vape alias OPV. Apaan nih?

One Push Vape alias OPV

One Push Vape alias OPV

Pertama-tama sih saya suka sama bentuk dan ukurannya, handy, Cin. Buat sini yang agak suka jalan-jalan ke sana ke mari, termasuk ke pelosok-pelosok, produk ini cocok banget dibawa ke mana-mana, nggak bikin tas tambah berat karena ukurannya kan cuma segindang.

Tahu nggak apa yang paling ganggu dari obat nyamuk semprot? Yes, baunya. Kadang ada juga yang bikin sesak sampe dada, kan saya jadi khawatir jangan-jangan kandungan si obat nyamuk malah jadi racun buat anak. Naaah, kalau pake OPV ini nggak usah khawatir perihal begituan deh. OPV menggunakan Phyrethroid yang udahnya nanti mudah diurai lewat air seni dan keringat. Selain itu, OPV juga menggunakan teknologi yang canggih dari Jepang yang menghasilkan partikel dari semprotannya sebesar nano partikel, yang mampu membuat keampuhannya bertahan. Dan yang penting buibu, OPV ini cuma perlu disemprot selama 1 detik saja untuk menghalau nyamuk selama 10 jam, huwowww, mama suka.

Semprot nih!

Semprot nih!

Eh satu hal lagi, OPV ini hadir dalam 3 varian aroma, green tea, natural fragrance alias orange, dan lemon. Tinggal dipilih aja tuh mana yang paling kamu suka aromanya. Pilihan saya tentu saja Green Tea (nggak Kue Cubit, nggak obat nyamuk, I vote for Green Tea!). Tapi orange-nya juga seger banget kok.

Vape Natural Fragrance, laaaf!

Vape Natural Fragrance, laaaf!

Penasaran pengen coba? Nggak susah carinya, cek aja ke minimarket-minimarket yang bertebaran di mana-mana itu, ada kok. Harganya juga nggak bikin kantong sesak napas kok.

Urusan nyamuk udah kelar sekarang, hore. Tinggal mikir masak apa buat makan siang besok, yay!

9 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Kamu Nyebelinnya Sebelah Mana?

Pernah ngga kamu punya temen yang nyebelin banget. Judes, ngeselin, pokoknya kayak ga ada hal yang bagus tentang dia? Saya sih sering punya temen kayak begini. Tapi kenapa dong bisa jadi temen? Karena dia ternyata temen yang setia dengerin kalau saya curhat dan ga sembarangan ngasih pendapat, apalagi saran, apalagi judging. Jaman saya baru-baru kerja dulu, ada nih temen kayak gini, sekantor pula. Satu kantor dulu banyak ga senengnya sama dia. Tapi sebagai teman, saya punya banyak hal yang bisa saya ketawain bareng sama dia. Selera humor kami bisa dibilang satu frekuensi.

Pernah juga punya temen yang terkenal pemarah, doyan berantem, sedikit-sedikit marah sedikit-sedikit marah, tapi tau nggak, sebegitu sering saya makan bareng sama dia, belum pernah sekalipun  saya liat dia marah sama waiter/waitress. Padahal seringkali nemu tempat makan yang nyebelin, misalnya baru buka tapi udah bilang menu pesanan kamu abis. Saya sih bawaannya judes aja “lha, baru buka udah sold out ni gimana, bilang aja ga ada, jangan bilang abis”. Tapi temen saya yang pemarah ini dengan santai memilih menu lain untuk dipesan. Pernah juga menu yang dipesan salah, pesennya apa datengnya apa. Saya sempet tegang juga kirain dia bakal ngomel. Eh ternyata dimakan aja tuh, juga tanpa ngomel. Iseng, sekali waktu saya tanya kenapa dia ga pernah ngomel sama waiter/waitress. Jawabannya gampang aja dan ga filosofis sama sekali “masih banyak menu lain yang bisa dipesan”.

Pernah juga punya temen yang baik, ga pernah berantem sama orang, hubungan sama semua orang baik-baik aja. Rajin senyum, ramah dan temannya dimana-mana. Tapi kalau makan sama dia, saya suka tegang sendiri. Kalau sama waiter/waitress di tempat makan judes banget. Saya juga suka ngomel sih, tapi kalau udah salah banget. Tapi temen saya yang ini, ga usah pake salah, ngomong ke waiternya aja udah judes, ga pake senyum, ga pake ramah. Padahal dia dikenal sebagai temen yang ramah.

Yang paling ngeselin adalah kalau punya temen yang urusan horizontalnya lebih penting dibanding urusan vertikalnya sendiri. Tau maksud saya kan? Itu lho jenis temen yang ibadahnya rajin tapi urusan vertikal sama temennya banyak ga beres.

Maksud dari tulisan yang dimulai dengan racauan ini adalah, yang namanya orang, ga ada yang sepenuhnya nyebelin. Ga ada juga yang sepenuhnya baik-baik aja. Kamu akan nemuin hal yang menyenangkan dari orang yang nyebelin, demikian juga kamu akan nemuin hal yang ngeselin dari orang yang biasanya menyenangkan. Kamu akan merasakan waktu-waktu yang bikin kamu happy sama orang yang nyebelin, kamu juga akan ngerasain yang namanya sakit hati sama orang yang katanya nyenengin.

Tulisannya kayak bijak banget sih Shas. Padahal bukan lagi bijak ini sih lagi kesel sebenernya.

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Menutup 2014 (dengan air mata)

Sebenernya waktu saya nulis postingan ini, judul di atas adalah “Menutup 2014 Dengan Segala Kebrengsekannya”. Tapi ini kan bukan tayangan tivi yang harus didongkrak dengan judul yang bombastis ya. Lagipula menulis 2014 brengsek itu kok seperti tidak ada hal baik yang terjadi di 2014. Seperti tidak diajar untuk bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup.

Kemudian judulnya saya ubah menjadi “Menutup 2014″. Tapi trus kayaknya ga menarik juga. Nggak menggambarkan apa yang saya mau bilang di bawah nanti, dan nggak menggambarkan seperti apa 2014 buat saya. Penulis amatir memang, mikirin judul aja udah 2 paragraf sendiri.

Setengah awal dari 2014 berjalan baik buat saya. Pergi liburan ngajak mama untuk pertama kalinya, beberapa tempat baru, ketemuan-ketemuan asik dengan banyak orang. Sepertinya setengah pertama 2014 diciptakan untuk mempersiapkan saya menghadapi badai yang kemudian muncul di tengah kedua taun ini.

Saya kemudian mendapati saya bukan seperti saya yang biasanya. Tengah kedua taun 2014 membuat saya menjadi orang lain. Segitu buruknya sampe untuk pertama kali dalam hidup, saya malu melihat diri saya sendiri di kaca. Driven by feeling, in a bad bad way. Kalau ada orang yang perlu saya mintain maaf atas apa yang terjadi, maka orang itu adalah saya sendiri.

Sejak itu hari-hari tak pernah sama lagi. I am becoming an expert of faking smiles. I am not a beginner in hiding tears anymore. I swallow the pain, I live with the sadness for months. Till one day it blew out and destroy everything I have.

Begitu banyak energi yang tanpa sadar tersedot untuk hal yang sia-sia. Begitu banyak waktu yang terbuang untuk menyenangkan hati orang-orang yang mungkin sebetulnya doesnt deserve all the attentions, the heart and also, the energy. Begitu banyak upaya yang dilakukan untuk menjadi senang. Sampai lupa bahwa senang dan susah itu kan terjadi begitu saja tanpa harus kita upayakan. Lupa kalau yang namanya senang itu sesungguhnya memang tak perlu banyak usaha.

Resolusi 2015 kemudian menjadi sangat sederhana saja. Selain resolusi taun-taun sebelumnya yaitu pengen kurusan, kali ini saya tambahkan satu point penting : senang-senang.

Iya, senang-senang yang tanpa harus banyak upaya.

Senang-senang yang tidak dibayar dengan susah hati di kemudian hari.

Dan menyadari kalau senang dan susah itu bikinan kita sendiri, nggak perlulah dikejar-kejar sampai habis energi sendiri kemudian ngos-ngosan sendiri.

Selamat tahun baru, survivors. Walaupun sedikit terseok dan banyak berdarah, toh tahun ini lewat juga. Bukan tanpa hal baik, tentu saja ada hal-hal menyenangkan yang kita nggak boleh lupain. Hidup itu jangan jelek-jeleknya ajalah yang diingat.

Menutup 2014. Sambil berharap nggak ada lagi tahun-tahun mendatang yang harus ditutup dengan air mata seperti tahun ini.

IMG_3471

17 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Yang Katanya Food Blogger Padahal Cuma Tukang Makan

Screen Shot 2014-12-04 at 4.17.25 PM

Sudah sekitar 5-6 tahunan belakangan ini saya membiasakan diri menulis soal makanan yang saya makan. Bahasa kerennya : review. Tulisan-tulisan soal makanan ini tadinya ada di blog yang lagi kamu baca, tapi kemudian saya pindahkan ke SurgaMakan.com biar ga tercampur sama curhatan dan mumbling-mumbiling saya yang nggak jelas disini. Waktu Twitter mulai rame, saya kemudian suka posting singkat-singkat soal makanan di @SurgaMakan. Udah follow? Lho kok belum? Follow dong.

Karena suka nulis-nulis soal makanan, saya kemudian suka disebut Food Blogger atau pecinta kuliner dan sederetan istilah lainnya. Padahal buat diri saya sendiri, saya cuma seorang tukang makan. Teman saya @yohsandy pernah bilang kalau saya ini a foodie at heart. Kalau yang ini saya setuju, a foodie at heart I am. Saya ni kalau mikir mau makan sampe dipikir seriuuuuus pengen makan apa yang nggak cuma bikin kenyang tapi juga bikin lidah happy. Setiap mau pergi kemana gitu, yang selalu dipikir adalah “disana makan apa ya”. Saya mikir soal makanan dengan serius, sampe kadang jam 9 pagi udah sibuk mikir mau makan apa siang nanti.

Dengan predikat bahwa saya ini tukang makan, saya suka dapet pertanyaan beginian ;

“lho katanya tukang makan tapi kok makannya dikit”

Hehe, percayalah saya makannya ga dikit-dikit banget. Kadang makannya banyak, tapi ya sesuai porsi. Ga pernah sampe yang gimana banget banyaknya karena udahnya suka kenyang ga jelas kemudian rasa enak makanannya suka jadi ilang.

Sebagai tukang makan, saya juga termasuk suka pilih-pilih makanan. Yang jelas saya ga makan Pisang, Cumi, Ikan basah, aneka macam Cake, Kue Taart, Bolu dll. Ada temen saya yang bilang gini ;

“yeee katanya tukang makan tapi ini itu ga suka”.

Baru-baru ini sempat ada perbincangan hangat soal food blogger di twitter. Ada yang ngomel katanya food blogger suka kritik makanan tanpa memberikan saran yang membangun, yang ngomel juga ngomel soal food blogger yang suka kasih point makanan, misalnya “nilainya 7 dari sepuluh”. Lah dasar nilainya apa? Kemudian pembicaraan menghangat karena banyak yang ikutan ngomong. Katanya lagi, memberi pendapat soal makanan itu sebaiknya secara profesional, jangan secara personal. Padahal SurgaMakan (katanya) disukai orang karena nulisnya yang personal, yaiyalah karena kontributor SurgaMakan kan cuma saya satu-satunya. Dengan waktu yang tersendat mengejar update-an blog, saya memang sengaja nggak pernah ngajak orang lain untuk ikut menulis di SurgaMakan. Supaya blog ini tetap terasa sentuhan personalnya.

Ngomong soal food blogger akhirnya suka jadi inget pembicaraan dengan beberapa teman yang cerita beberapa food blogger yang katanya suka aji mumpung karena sering dapat undangan makan, yang gratis tentunya. Bahkan owner @steakholycow yang juga adalah teman chatting saya pernah cerita ada yang (so called) food blogger mengontaknya dan nawarin akan review produknya. Bukannya harusnya diundang ya? entahlah.

Saya kebetulan cukup sering dapat undangan untuk review makanan, baik dari restoran yang baru buka, atau yang lagi launching menu baru. Belakangan saya sering menolak undangan ini dengan 2 alasan, pertama karena jungkir balik ngatur waktu antara kerjaan, ngurus Biyan, dan istirahat (baca : marathon serial sitcom di rumah), alasan keduanya adalah saya nggak nyaman duduk makan ditanya-tanya ;

“enak ga? ada yang kurang? kurang apa?’

“enak ga? ga kalah kan sama restoran sebelah kan?”

Makannya jadi setengah setengah dong ya, kayak mau ditelen tapi ga berhasil-berhasil gitu.

Tapi ada satu kejadian yang membuat saya suka menolak undangan makan. Satu kali dapet undangan dari satu resto yang baru buka. Sambil nunggu makanan, si manager resto ngajak saya ngobrol. Lebih tepatnya nanya-nanya sih ;

“udah lama ngeblog soal makanan?”

“berapa banyak follower di twitter? Statistik blog gimana kunjungan hariannya?”

“apa bedanya surgamakan dot com dengan blog makanan yang lain?”

Semua pertanyaan saya jawab dengan asik sampe akhirnya beliau bilang gini “ga masalah sih kamu udah ngeblog berapa lama dan berapa banyak follower yang kamu punya. Yang jadi masalah berapa banyak follower kamu yang bisa kamu tarik makan disini dan bikin resto ini rame.

Bok, itu mah hire marketing manager kali jangan manggil kita yah.

Sejak itu saya jadi selektif urusan undangan makanan. Masih suka tetep dateng kok, kebetulan punya hubungan baik sama @infobandung, jadi kalau undangan datang dari mereka, biasanya saya mau, atau temen blogger lain yang ngundang dan emang udah kenal deket. Tapi jangan salah, tiap dapet undangan makan dari resto baru, saya selalu catat restonya, buat alternatif dine out sekali waktu nanti. Biasanya saya dateng unannounced, bukan sok penting, tapi supaya makannya ga ditanya-tanya mulu dan ngga ngerepotin dengan nggak bayar. Trus juga ga ada kewajiban untuk nulis kan ya, kalau saya suka, nulis, nggak suka ya udah :).

Urusan undang mengundang blogger untuk review makanan di resto memang susah-susah gampang. Buat saya yang sering jadi problem adalah waktu. Seringnya nggak bisa memenuhi waktu undangan yang ditentukan. Menurut saya, cara paling enak mengundang adalah kirim voucher. Blogger bisa datang in her convinient time, tanpa perlu ditongkrongin dan ditanya-tanya enak ga enak ga berulang kali. Yang punya resto juga ga harus meluangkan waktu untuk nemenin makan, kecuali memang pengen ketemu.

Saya memang ngga pernah nulis soal makanan yang nggak enak di SurgaMakan, bukan apa-apa. Selain enak dan nggak enak itu subjektif, bisa jadi saya pas sial aja tukang masaknya lagi bete misalnya sehingga makanannya ga enak. Tapi pernah ada kejadian gini : ada resto baru buka di Bandung, pas saya coba, eh makanannya ok. Tempatnya juga asik, trus saya nulis deh di SurgaMakan. Lalu saya kesitu lagi untuk kedua kali dengan jarak waktu yang nggak terlalu lama. Taunya waiting list, biasalah tempat baru di Bandung. Sayangnya yang ngatur waiting list nggak jelas aturannya, beberapa kali giliran kami dilewat begitu saja. Kesel? Iya. Ngomel di @surgamakan? enggak. Tapi begitu pulang saya hapus postingan soal resto tersebut.

 

31 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya