Karet Rambut Hitam Punya Papa.

Kalau ayah saya masih ada, hari ini beliau berulang taun ke 59. Iya, masih muda ya. Selain muda, ayah saya juga rock and roll, rambutnya panjang sepanjang rambut saya sekarang dan selalu merepotkan saya nyariin karet rambut yang warnanya hitam. Dulu saya suka ngomel kenapa sih karet rambutnya hilang terus saya jadi harus beliin terus-terusan. Harganya sih ga seberapa tapi susah cari karet rambut yang hitam tanpa warna atau tempelan apa-apa. Jadi kalau nemu, biasanya saya beli banyak.

Setelah ayah saya meninggal karena kanker beberapa tahun lalu…….

Continue reading

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

The Rosie Project. (insya allah ga pake spoiler)

Bisa dibilang saya melalui masa masuk usia dewasa dengan membaca buku-buku chicklit. Dari jaman Bridget Jones’ Diary, sampe The Devil Wears Prada, semua saya lahap sampai tuntas. Belakangan ketika social media mulai menyita waktu membaca, saya masih tetap setia baca chiklit meskipun waktunya kadang-kadang defisit banget.

Membaca chiklit artinya mengerti banget pola pikir penulisnya. Maklum, rata-rata penulisnya perempuan, tokoh-tokohnya nggak beda jauh dari perempuan muda, punya penghasilan sendiri, cerdas, punya keterampilan, tapi tetep drama queen terutama soal percintaan. Makanya nggak heran kalau saya dengan mudah bisa mengikuti alur penulisan dengan mudah.

Waktu The Rosie Project sampai ke tangan saya, seperti biasa kiriman @editor_in_chic, saya nggak ngeh kalau penulisnya lelaki. Tokoh sentralnya memang lelaki sih, tapi kan bisa aja penulis perempuan nulis soal tokoh lelaki. Kemudian ketika saya mulai kesulitan mengikuti pola pikir dan cara pandang Don Tillman, si tokoh utama, saya baru sadar, oh penulisnya lelaki.

Dari situ cerita ini kemudian jadi lebih menarik buat saya karena rasanya seperti menyelami daya pikir seorang lelaki. Bukan perihal pekerjaan atau segala sesuatu yang lebih serius, tapi lebih ke soal…………..

Continue reading

9 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya, Saya, resensi buku

Mandalay. Tak Cukup Sekali.

Tulisan terakhir dari cerita jalan-jalan ke Myanmar awal tahun lalu. Jadi kota terakhir (sekaligus pertama) yang saya kunjungi adalah Mandalay. Kenapa terakhir sekaligus pertama? Karena waktu pertama dateng saya terbang dari Bangkok ke Mandalay tapi ga pake mampir mana-mana dulu dan langsung naik mini bis ke Bagan. Jadi setelah dari Nyaung Shwe, saya kemudian kembali ke Bagan, nginep semalam sebelum lanjut ke Bangkok lagi.

Ada 2 tujuan utama saya di Mandalay, yaitu Mingun dan U-Bein Bridge. Dengan catatan, kalau masih punya waktu sebelum ke airport saya agak-agak pingin mampir ke monastery, dan ternyata nggak sempat

Dari Nyaung Shwe sekitar jam 20.00, saya tiba di Mandalay Pk. 03.30. Yes setengah empat subuh aja dan kita bertiga lagi enak tidur, untung kebangun pas bis berenti, dan ngecek di Waze, eits hotel yang saya book ternyata udah tinggal 200 meter aja. Bisa jalan kaki dong. Walaupun lumayan aja geret koper jalan subuh-subuh begitu.

Saya milih hotel Tiger One, kelihatannya dari lokasi lumayan ok karena dekat pasar, banyak makanan, dan cari money changer juga nggak susah. Mandalay ini semacam kota yang lebih ramai dibanding Bagan dan Nyaung Shwe. Di hotel disediakan sepeda yang bisa kamu pake untuk keliling-keliling dengan gratis.

Pas saya sampe hotel, beberapa karyawannya terbangun sampe rasanya ga enak karena bangunin. Front office officernya minta maaf sama saya karena tidak ada kamar kosong yang bisa dia berikan sama saya pagi itu.

And I was like :

WHAT??

Continue reading

4 Comments

Filed under Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

Kedinginan Sekaligus Kesenengan di Nyaung Shwe

Dari Bagan saya meneruskan jalan-jalan ini ke Nyaung Shwe, ditempuh bis kira-kira 9-10 jam-an. Seperti udah cerita di sini, tiket bisnya saya pesen di hotel dengan harga 10.000 kyats per orang. Atau 100.000 rupiah.

Bisnya lumayan oke, sampe di tengah jalan ternyata banyak orang naik dan di antara baris kiri dan kanan ada kursi lipat yang fungsinya untuk kursi tambahan. Ok jadi mulai kurang nyaman nih, ketambahan lagi karena toiletnya ga berfungsi. PR juga kalau pengen pipis malem-malem.

Sempet ada tragedi dugaan salah naik bis juga, pasalnya di tengah jalan sekitar Pk. 01.00 (kita jalan mulai Pk. 20.00), saya nanya ke kenek bis

“Nyaung Shwe masih jauh ga sih?”

Si kenek kemudian jawab :

“Nyaung Shwe?? No no no no!!, this is Kelok, Nyaung Shwe No no no!”

Mulai panik karena khawatir salah naik bis kan ya, mana sempet masukin 2 koper ke bis, kebayang aja kita udah salah bis kemudian terpisah sama 2 koper kan repot banget urusannya.

Continue reading

3 Comments

Filed under Cinta, Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

Myanmar adalah tujuan saya untuk liburan mengawali tahun 2016 kemarin. Sebetulnya jauh-jauh hari kami sudah punya rencana lain. Tapi ada 2 orang teman baik yang baru saja pulang dari Myanmar dan sharing betapa cantiknya negara ini. Maka saya punkemudian berbalik arah. Di waktu yang singkat cari tiket, cari hotel, cari-cari apa yang mesti disiapkan dalam waktu kurang dari seminggu rasanya.

Kemudian saya mendapati tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Mandalay. Yang ada hanya ke Yangon dan Yangon tidak ada di list tempat yang mau saya kunjungi di Myanmar. Maka ‘dengan sangat terpaksa’ plus latar belakang ‘asik bisa mampir makan enak dulu’, saya pun memutuskan untuk terbang ke Mandalay dari Bangkok. Yes, ada waktu satu malam sebelum dan sesudah Myanmar di Bangkok. Lumayan, bisa blinji-blinji dan makan enak. Penting ini.

Pesawat saya mendarat di Mandalay Pk. 12.30.

FullSizeRender-1 Continue reading

1 Comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya, Cinta, life, Family, jalan-jalan, Saya

Cara Saya Menutup 2015

Menulis sebuah catatan akhir tahun, -meski saya tak pernah ingat kapan saya memulainya-, menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dibanding menyusun resolusi tahun baru seperti yang biasanya orang-orang lakukan. Pasalnya saya bukan orang yang banyak ambisi. Saya tak pernah punya bucket list serius, yang saya inginkan dalam hidup hanyalah untuk menjadi lebih bahagia daripada saya yang sebelumnya. Itu saja.

Continue reading

11 Comments

Filed under Cinta, Friends, Saya, Saya, dan Saya

Barn n Bunk, Rumah Baru di Gianyar

Saya accidentally mampir ke Instagramnya @barnnbunk beberapa waktu lalu. Liat-liat isinya saya langsung tau kalau ini adalah tipe tempat yang ingin saya datengin satu waktu nanti kalau saya ke Bali.

IMG_2895

Continue reading

14 Comments

Filed under Cinta, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya