Hidup Kok Digeneralisasi

Kalau boleh, saya ingin mengibaratkan hidup belakangan ini seperti meja prasmanan di undangan kawinan. Atau undangan khitanan, atau undangan ulang taun, terserah undangan apa karena bukan itu inti permasalahannya.

Pernah nemuin makanan yang nggak enak di meja prasmanan kan? Kalau makanan nggak enak ini ada di urutan pertama, dan sempat kita cicip sebelum menuju ke urutan selanjutnya, maka sangat wajar kalau kemudian kita menyimpulkan semua makanan yang ada di meja prasmanan itu nggak enak rasanya. Padahal belum tentu.

Hidup saya belakangan terasa seperti itu.

Di kerjaan tentu saja sering nemuin hal-hal yang bikin kesel. Yang bikin kesel biasa siapa aja, teman kerja, job desk, aturan, kebijakan, vendor, partner, bisa apa saja. Sayangnya kemudian saya merasa terlalu banyak hal yang bikin marah. Belakangan saya nggak bisa lagi bedain, apakah memang sepantasnya bikin marah atau sayanya yang gampangan marah

Di sisi kehidupan yang lain selain urusan kerjaan juga begitu, di rumah, di saat gaul sama temen, saat mantengin socmed, selalu ada hal yang bikin kesel. Sayangnya, kadar kekesalannya nambah terus sampai saya merasa terganggu. Kemudian ya saya jadi mikir, ini masa sih semua orang tiba-tiba jadi ngeselin di saat yang bersamaan? Must be something wrong in me, within myself. Saya yang membuat suasana di sekitar saya menjadi nggak enak, menjadi tumpukan kekesalan, menjadi gumpalan amarah yang menggelinding tak ada ujung.

Percaya dan kemudian diingkari orang juga begitu. Sekali diingkari, kita jadi pukul rata bahwa semua kata yang terucap adalah bohong. Padahal belum tentu. Bisa aja karena trauma kita jadi generalisasi. Semua dibilang bohong padahal dari 10 perkataan, yang benar mungkin ada 8. Masih lumayanlah dibanding benernya 5 dustanya 5. Apalagi dibanding benernya 2 dustanya 8.

Kemudian mau sampai kapan membiarkan hidup dikuasai rasa marah seperti ini?

Padahal kata orang, when life gives you lemon, take a glass of tea and enjoy it. Saya suka lupa kalau di ujung meja prasmanan dengan makanan yang kurang enak selalu ada acar, kerupuk dan sambal yang bisa bikin enak. Suka lupa bahwa hidup ini ga melulu soal yang jelek, selalu ada hal baik yang bisa kita temui di saat nggak terduga.

Suka lupa bahwa hidup ini bukan untuk digeneralisasi tapi untuk dijalani.

2 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

2 responses to “Hidup Kok Digeneralisasi

  1. Wajar kalo lagi pengen marah-marah. Namanya juga manusia. Namanya juga hidup. Masak harus senyum terus?
    Take a chill pill when you’re about to burst. Diem. Tidur. Minum air putih.

  2. Pashatama

    minum air putih, noted. Tapi chill pill nya apa? aku perlu saran, perlu supply.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s