You Don’t Teach Kids How to Love, You Show Them

Ada banyak draft tulisan di blog ini yang pada akhirnya tidak pernah saya posting. Yang paling banyak adalah soal Biyan, anak saya satu-satunya. Ada yang karena saya merasa informasinya terlalu gamblang, kan katanya di jaman internet edan ini kita harus hati-hati memberikan informasi atau bercerita soal anak kita kan ya. Tapi yang terutama adalah karena saya khawatir dibilang sombong karena anak saya yang satu-satunya itu, se nggak beres apapun ibunya, adalah anak yang memang bisa banget dibangga-banggain kesana kemari.

Kalau kamu temenan sama saya di Path, pasti tau banyak soal Biyan karena disanalah saya banyak cerita soal dia. Perihal anaknya penurut, mau belajar sendiri, mau main sendiri, nggak ngerepotin, nggak bikin pusing, bisa ditinggal-tinggal baik kalau mamanya pergi kerja atau pergi main sih udah biasa.

Yang selalu istimewa dari Biyan, adalah manisnya yang level sejuta. Dan manisnya bukan cuma sama saya, sama teman-temannya apalagi. Di semester ke berapalah dulu saya pernah dapat highlight di raportnya, katanya dia selalu care sama semua orang di sekolahnya. Kalau ada yang nggak masuk, dia tanya, kalau sakit, ditanya sakit apa. Padahal saya nggak pernah ngajarin.

Dari dulu saya orangnya memang hopeless romantic. Dan saya tak pernah menyangka ini menular sama Biyan, karena lagi-lagi saya nggak ngajarin. Coba intip whatsapp message yang dia kirim ke saya waktu saya ada di luar kota :

IMG_3192

Dibilang kangen sama anak sendiri ternyata rasanya jauh lebih hangat dibanding dibilang kangen sama twitter crush🙂

Kali lain kami lagi on the way pergi ke satu tempat, tiba-tiba dia mengeluarkan spidol face painting dari tasnya dan tau-tau menggambar mukanya sendiri begini rupa :

IMG_3193

Udah mau marah tadinya, karena ini kan mau pergi ya malah gambar-gambar muka, dan walaupun ini pake spidol buat face painting, bersihinnya tetep aja susah apalagi cuma pake tissue basah. Taunya katanya foto itu dia mau kirim buat temennya yang lagi sakit. “Supaya dia ketawa-ketawa, Ma”, gitu katanya. Dan bener aja, pas saya kirim ke ibu temennya, katanya anaknya jadi ketawa-ketawa di tengah sakitnya.

Sekali lagi, saya nggak pernah ngajarin Biyan untuk bersikap begitu. Siapalah pula yang kepikir ngajarin sampe sebegitu detilnya.

Beberapa hari yang lalu saya sakit. Dan setiap saya sakit, Biyan yang susah hati. Karena dia nggak boleh deket-deket saya. Nggak boleh tidur bareng, dan ga boleh peluk-pelukan karena nanti menular.

Karena kerjaan lagi banyak, maka sakit-sakit pun neneng ngantor, tapi ga tahan, pulang siang-siang untuk tidur. Berjaket, berselimut, lengkap pake kaos kaki dan kompres. Tiba-tiba dia menyelinap ke ranjang saya dan mengelus tangan saya pelan-pelan trus nyanyi. Iya, dia nyanyi.

“Cepatlah sembuh mamaku sayang, nanti kita bobo bareng lagi”.

Nada lagunya persis seperti yang suka saya nyanyikan kalau dia lagi sakit, bedanya kata2nya begini “nanti kita main-main lagi”

Ya ampun lagi sakit kepala kemudian air mata mengalir deras dan bikin tambah sakit kepala. Trus kemudian saya berpikir, “what have I done to have a sweet kid like this”.

Cerita manisnya masih banyak. Kalau diceritain disini nggak kelar-kelar nanti jadinya. Tapi satu hal yang saya belajar dari Biyan ; you dont teach kids how to love, you show them.

Saya nggak berusaha menggurui kamu yang punya anak atau kamu yang lagi pengen punya anak atau kamu yang lagi siap-siap punya anak kok. Saya percaya setiap anak punya karakter berbeda-beda. Ini bagi pengalaman ajalah, sukur-sukur berguna ya ga🙂

12 Comments

Filed under Cinta, Family, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

12 responses to “You Don’t Teach Kids How to Love, You Show Them

  1. Mbaaaaa aku nangis terharu. Biyan kok sweet banget. Trus ide face paintingnya ya ampun so speechless… May God bless you Biyan! In every steps that you take. Anak pelipur lara kalau versiku

  2. Ira

    Biyan so sweet banget ya mbak Shasyi

  3. aduuuh ampun senengnya baca tulisan ini. so sweet banget biyaaan. duhhh… kalian❤.

  4. ngajak anak untuk bersikap sweeet banget kayak gini, jauuuuh lebih sulit ketimbang ngajarin anak utk jadi pinter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s