Cara Saya Menutup 2015

Menulis sebuah catatan akhir tahun, -meski saya tak pernah ingat kapan saya memulainya-, menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dibanding menyusun resolusi tahun baru seperti yang biasanya orang-orang lakukan. Pasalnya saya bukan orang yang banyak ambisi. Saya tak pernah punya bucket list serius, yang saya inginkan dalam hidup hanyalah untuk menjadi lebih bahagia daripada saya yang sebelumnya. Itu saja.

Tahun ini ada pelajaran besar yang membuat saya merasa sedikit lebih dewasa (karena menjadi lebih tua kan sudah tentu). Kalau tahun lalu saya merasa bahwa hidup ini bukan selalu perihal sesuatu yang buruk kendati banyak hal buruk terjadi, tahun ini saya belajar bahwa kita, sebagai manusia, memang tak akan pernah bisa puas dengan apa yang kita punya ; harta, waktu, kepintaran, keahlian, dan juga kebahagiaan.

Semua kita tentu pernah merasa bahagia. Namun kita selalu berupaya untuk menambah kebahagiaan yang kita punya. Caranya banyak ; pergi berlibur, belanja barang kesukaan kita, ketemuan dengan teman-teman yang pola pikirnya sama, dan lain-lain, sebut saja apa yang pernah kamu lakukan dalam rangka menambah dosis kebahagiaanmu.

Kemudian kita tak berhenti berupaya. Kemudian kita tak puas dengan apa yang kita punya. Punya satu mobil kemudian ingin 2 mobil supaya lebih bahagia. Punya 3 warna cutex baru kemudian bikin kita tak puas sehingga kita merasa perlu membeli 5 warna lagi supaya ketika membuka lemari kaca di kamar kita akan tersenyum lebih lebar melihat koleksi cutex yang bertambah.

Yang ada, kita akan terus menghabiskan energi yang kita punya untuk menambah kadar kebahagiaan kita. Kita menjadi tak puas dengan apa yang sudah didosiskan untuk kita. Kita berharap anak kita lebih nurut kayak anak tetangga, kita berharap pasangan kita lebih perhatian daripada sebelumnya, kita berharap pendapatan lebih besar dari tempat kita bekerja, kita berharap dagangan kita lebih laku daripada sekarang, dan sejuta harapan yang ujungnya cuma satu : menambah kadar kebahagiaan.

Apakah ada yang salah dengan semua itu?

Tentu saja tidak.

Yang selalu salah adalah caranya.

Seringkali (kalau tak mau dibilang selalu), kita menempuh cara yang singkat, yang pendek, yang praktis, yang enaknya aja untuk menjadi sedikit lagi lebih bahagia. Waktu anak kita nggak nurut, kita marah dengan harapan dia dengan instan cepat menurut sama kita sebagai orang tuanya. Waktu kerjaan kita nggak memberikan hasil yang cukup, alih-alih berusaha lebih baik, kita mungkin menggunakan cara miring asalkan dapat menerima hasil yang lebih banyak. Waktu pasangan kita kurang perhatian, kurang asik, kurang ini itu, kemudian kita mencari orang yang bisa memenuhi kebutuhan kita akan seorang pasangan yang sempurna.

Padahal, hidup tak pernah sempurna.

Dan hidup memang tak pernah ditakdirkan untuk jadi sempurna.

Kita sebagai pejalan hidup diharapkan menjalani hidup yang tak sempurna ini untuk menjadi bahagia. Bukankah bahagia sudah menjadi tujuan hidup kita sejak kita pertama kali mengerti apa artinya bahagia?

Instan, cepat, ringkas dan kontan, begitulah kita menginginkan kebahagiaan. Padahal katanya happiness is about the journey, not the destination. Yang bikin bahagia itu prosesnya bukan tujuannya.

Dan kita sering lupa, demi mencapai kebahagiaan yang kita inginkan, kita seringkali mengorbankan apa yang kita sudah punya.. Pasangan yang pernah kita tinggalkan untuk seseorang yang keliatannya akan bikin kita lebih bahagia mungkin justru adalah instrumen hidup yang justru akan bikin kita senang, bahagia, tanpa perlu kita usaha mati-matian, hanya dengan tetap berusaha menjalani proses ini bersama. Anak kita yang kita bilang bikin pusing karena ga nurut, mungkin satu waktu akan bikin kita bangga dengan prestasinya kelak, dan tak ada nilai uang yang bisa membayar kebanggaan kita sama anak kan? Kan.

Karma tak pernah ada dalam benak saya. Tak banyak waktu yang saya gunakan untuk mikirin soal karma. Juga prinsip tabur tuai yang sering kali didengung-dengungkan teman-teman saya yang cukup religius. “Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai nanti”, begitu kata mereka.

Yang saya percaya cuma satu ; ketika kita pernah menyakiti orang lain baik sengaja maupun tidak, ya saya berusaha nggak marah kalau satu waktu lain ada orang lain yang menyakiti kita dengan cara yang sama, atau setidaknya, hampir sama.

Nggak ada yang cara yang instan untuk bahagia. Semua prosesnya harus kita jalani bersama.

Ingin bahagia di kantor? Jalani bersama teman-teman sekantor sehingga pekerjaan tak lagi jadi beban seperti sebelumnya.

Ingin bahagia di rumah? Jalani bersama pasangan (dan anak – kalau sudah punya), mengisi waktu bersama dengan hal-hal yang bikin ketawa bersama, berpelukan di ujung hari, bangun siang bersama saat weekend, masa iya nggak bisa bikin bahagia?

Ingin bahagia walau sendiri? Lakukan apa yang kamu suka, yang nggak pake efek samping. Beli barang yang bikin kamu happy, pergi ke tempat yang kamu mau, makan enak, banyak ketawa, tidur yang enak.

Bahagia is on its way when you enjoy all the process

Selamat tahun baru, semoga lebih bahagia 2016 nanti.

IMG_2720

a baby step to what so called happiness🙂

11 Comments

Filed under Cinta, Friends, Saya, Saya, dan Saya

11 responses to “Cara Saya Menutup 2015

  1. suka deh baca tulisan ini.
    semoga tahun 2016 lebih baik untuk kita semua yaa sha.
    aamiin.

  2. Ira

    Suka ngebacanya mbak…semoga makin bahagia dan lebih baik di 2016 mbak🙂

  3. Betuuuulll mbak. Kudu dijalani BERSAMA orang2 di dunia nyata yah

    thanks for sharing

  4. Selamat tahun baru, semoga tahun 2016 lebih baik.

  5. cheers to a better year, to a happier state of mind, to an even more grateful heart :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s