Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

Myanmar adalah tujuan saya untuk liburan mengawali tahun 2016 kemarin. Sebetulnya jauh-jauh hari kami sudah punya rencana lain. Tapi ada 2 orang teman baik yang baru saja pulang dari Myanmar dan sharing betapa cantiknya negara ini. Maka saya punkemudian berbalik arah. Di waktu yang singkat cari tiket, cari hotel, cari-cari apa yang mesti disiapkan dalam waktu kurang dari seminggu rasanya.

Kemudian saya mendapati tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Mandalay. Yang ada hanya ke Yangon dan Yangon tidak ada di list tempat yang mau saya kunjungi di Myanmar. Maka ‘dengan sangat terpaksa’ plus latar belakang ‘asik bisa mampir makan enak dulu’, saya pun memutuskan untuk terbang ke Mandalay dari Bangkok. Yes, ada waktu satu malam sebelum dan sesudah Myanmar di Bangkok. Lumayan, bisa blinji-blinji dan makan enak. Penting ini.

Pesawat saya mendarat di Mandalay Pk. 12.30.

FullSizeRender-1

Yang pertama dilakukan adalah tuker uang. Nggak akan bisa nuker Kyats di Indonesia, nggak ada money changer yang punya. Maka saya bawa USD dan tukar di bandara. Ada beberapa money changer dengan rate yang sama-sama aja, maka saya pilih yang pas sepi. Setelah itu saya beli simcard lokal. Ada 2 pilihan : Ooredoo dan Telenor. Saya beli Telenor berisi kuota 1.25GB dengan harga 12.000 kyats (bacanya ‘cyats’), atau 120.000 dalam rupiah.

Setelah itu saya naik taxi ke stasiun bis untuk kemudian mencari bis yang bisa membawa saya ke Bagan. Bandara Mandalay cukup jauh dari pusat kota. Ongkos taxi mencapat kira-kira 12.000 kyats (Rp. 120.000) dengan perjalanan selama kurang lebih 45 menit. Sebelum naik taxi saya membeli roti di kedai bandara, eh rotinya enak banget. *info mulai kurang penting*.

Sampai di stasiun bis, saya nyari travel/bis ke Bagan. Ada nih jam 14.00, katanya. Wah bagus, ga perlu nunggu lama dong. Harganya 9000 kyats per orang (kalau mau itung dalam rupiah gampang cyin, tinggal tambah 0 aja belakangnya). Mobilnya kayak mobil travel Jakarta-Bandung ala Cipaganti gitu. Dikasih nomer kursi sih, tapi jangan kaget kalau di kursimu tau-tau ada dus seukuran 2 orang dewasa lagi duduk manis. Atau jangan kaget juga kalau kopermu ditaro di bagian depan dan penumpang asik-asik aja naikin kakinya. Di jam-jam pertama tiba di Myanmar saya sudah punya semboyan hidup baru : “semuanya bisa asik kalau diasik-asikin aja”.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 5 jam. Sekitar jam 19,30-an kami tiba di Bagan dan langsung diserbu angin yang lumayan dingin. Setelah sampe di terminal bis, kita dibawa lagi naik angkutan bak terbuka (cuma ada atapnya aja, untung ada kursinya) seperti yang saya tumpangi di Lembongan dan kalo nggak salah, dulu di Krabi, Thailand juga begini angkutannya.

Untung ga lama-lama duduk di mobil bak-nya, dingin cyin. Saya diantar ke New Wave Guest House tempat saya nginep malam itu. Jadi ongkos antar ke hotel ini sudah termasuk harga tiket 9000 kyats itu tadi ya.

Sambil check in saya sekalian pesan dokar buat ngejar sunrise keesokan paginya, sekalian buat kliling-kiling Bagan siang harinya. Oh, sekalian juga pesan tiket bis buat ke Nyaung Shwe besok malamnya.

Kalau kamu akan menginap di Bagan, pastikan memilih daerah Old Bagan atau Nyaung-U, karena di daerah inilah banyak pagoda-pagoda cantik yang minta didatangi satu-satu. Hotel yang kelihatannya lumayan ok buat diinepin : New Wave, Blazing Hotel, Aung Mingalar, Innwa. Mungkin masih ada sih yang lain yang juga ok, tinggal browsing aja di Agoda, harganya berkisar Rp. 500.000, bisa lebih bisa kurang.

Makanan juga gampang kok carinya, mau yang pinggiran jalan, mau yang restoran, mau yang cafe cakepan dikit juga ada. Harganya masih okelah, sedikit di bawah harga-harga makan di Bandung. Berhubung di Myanmar agak banyak makanan non halal, maka nanti soal makanannya akan saya posting di sebabiduababi.com ya🙂

Pagi hari sekitar jam 5, udah ada yang jemput untuk liat sunrise. Ada beberapa tempat untuk bisa liat sunrise plus pemandangan cakep dari hot air balloons di Bagan. Saya pasrah dan menyerahkan sama yang jemput, terserah aja ajak kemana, asal tempatnya cakep.

Gelap-gelap kami naik ke satu pagoda, nggak keliatan apa-apa karena memang beneran gelap dan ga ada lampu sedikitpun. Udah lumayan banyak orang yang ada di situ walaupun ga sampe berdesakan sih.

Si sunrise yang ditunggu-tunggu pun muncul. Hot air ballons yang jadi faktor penting udah dipasin waktunya untuk diterbangin pas matahari mulai nampak.Oya, hot air balloon ini katanya cuma diterbangkan selama November-Maret pas disana lagi musim dingin.

IMG_4634

Walaupun udah beberapa kali liat foto sejenis ini di socmed, tapi pas ngeliat sendiri tetep aja beda. Surreal, magis, apalah sebut saja. Yang jelas di tengah kedinginan saya beneran terpesona. Oh ya, pas masih gelap dan bintang berserakan di langit, saya sempet liat bintang jatuh! Dalam hati langsung made a wish dong ya. Psssst, wish nya rahasia😉

Begitu matahari meninggi dan hari mulai terang, saya baru melihat untuk pertama kali, betapa cantiknya Bagan. Terutama area Old Bagan ini. Pagoda dimana-mana, ladang kosong kecoklatan masih luas, cantik sekali!

FullSizeRender-2

Siang hari sampai waktu sunset tiba saya habiskan berkeliling kota dengan dokar. Seru deh dokar di sini belakangnya pake sofa! Enak aja sih bisa tidur-tiduran dan duduk santai. Tapi dengan posisi males buka sepatu, ujung-ujungnya kaki jadi menggantung, ya pegel juga.

Keliling Bagan artinya keluar masuk pagoda sih, makanya jangan repot-repot pake sepatu, asikan pake sendal jepit aja biar gampang buka-pakenya. Menjelang sunset, saya naik ke pagoda yang lain lagi. Menurut Yeye, pengemudi dokar kami, pagoda ini yang paling bagus spot menangkap sunsetnya.

FullSizeRender

Ini kalo posting foto terus ga kelar-kelar deh postingannya :))). Yang masih mau liat foto-foto Bagan, ada di Instagramku ya : @pashatama.

Setelah sunset-an, saya langsung balik hotel karena akan dijemput untuk diantar ke terminal bis karena malemnya saya akan ke Nyaung Shwe.

Cerita Nyaung Shwe nya dipisah di postingan lain aja kali ya? Biar ga kepanjangan.

Sedikit tips yang semoga berguna :

  1. Mulai November, Bagan akan mulai dingin. Siang-siangnya masih adem walau matahari bersinar terik. Tapi pagi dan malemnya lumayan dingin, jangan lupa bawa jacket dan syal, apalagi kalau berencana ngejar sunrise.
  2. Harga makanan kurang lebih begini, makan di pinggir jalan abis sekitar 20 ribuan seorang, di resto 50 ribuan dan kalau duduk di cafe yang agak cakepan ya sekitar 80 ribuan seorang
  3. Harga sewa dokar seharian 300 ribuan, udah termasuk liat sunrise dan sunset sekalian. Berhubung pas liat sunrise masih dingin banget, yang nyewain dokar berbaik hati minjemin mobilnya, pas siang-siang baru dokar-dokaran deh
  4. Kalau mau belanja oleh-oleh, sebisanya jangan di area pagoda-pagoda karena targetnya udah turis banget jadi harga lumayan mahal, mampirlah ke pasar atau toko kelontong gitu. Sarung standar (disana laki-laki semua pakai sarung) harganya sekitaran 50 ribu. Kain semacam kain ikat kira-kira 200 ribuan.
  5. Hotel berkisar Rp. 300-700 ribuan yang standar. Hotel saya kebetulan bersih banget, lumayan spacious pula
  6. Jangan arep wifi. Di beberapa tempat yang katanya ada wifi biasanya ga pada bisa dipake. Termasuk di hotel
  7. Pake sendal jepit atau sendal yang gampang dibuka pakai dengan alasan yang sudah disebutkan di atas

Okeh, semoga postingan Nyaung Shwe bisa cepetan diposting yah🙂

 

 

1 Comment

Filed under Cinta, Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

One response to “Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

  1. Pingback: Mandalay. Tak Cukup Sekali. | Kata Shasy.......

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s