Mandalay. Tak Cukup Sekali.

Tulisan terakhir dari cerita jalan-jalan ke Myanmar awal tahun lalu. Jadi kota terakhir (sekaligus pertama) yang saya kunjungi adalah Mandalay. Kenapa terakhir sekaligus pertama? Karena waktu pertama dateng saya terbang dari Bangkok ke Mandalay tapi ga pake mampir mana-mana dulu dan langsung naik mini bis ke Bagan. Jadi setelah dari Nyaung Shwe, saya kemudian kembali ke Bagan, nginep semalam sebelum lanjut ke Bangkok lagi.

Ada 2 tujuan utama saya di Mandalay, yaitu Mingun dan U-Bein Bridge. Dengan catatan, kalau masih punya waktu sebelum ke airport saya agak-agak pingin mampir ke monastery, dan ternyata nggak sempat

Dari Nyaung Shwe sekitar jam 20.00, saya tiba di Mandalay Pk. 03.30. Yes setengah empat subuh aja dan kita bertiga lagi enak tidur, untung kebangun pas bis berenti, dan ngecek di Waze, eits hotel yang saya book ternyata udah tinggal 200 meter aja. Bisa jalan kaki dong. Walaupun lumayan aja geret koper jalan subuh-subuh begitu.

Saya milih hotel Tiger One, kelihatannya dari lokasi lumayan ok karena dekat pasar, banyak makanan, dan cari money changer juga nggak susah. Mandalay ini semacam kota yang lebih ramai dibanding Bagan dan Nyaung Shwe. Di hotel disediakan sepeda yang bisa kamu pake untuk keliling-keliling dengan gratis.

Pas saya sampe hotel, beberapa karyawannya terbangun sampe rasanya ga enak karena bangunin. Front office officernya minta maaf sama saya karena tidak ada kamar kosong yang bisa dia berikan sama saya pagi itu.

And I was like :

WHAT??

Pasalnya, saya sudah book hotel ini via Agoda untuk menginap dari malam sebelumnya. Jadi harusnya saya bisa check in Pk. 14.00, saya baru akan check in Pk. 03.30 itu, book 2 malam jadi saya akan check out Pk. 12.00 keesokan harinya.

Si front office ketawa “oh maaf saya kira book untuk hari ini, kalau yang kemarin sih ini kamarnya udah disiapkan”, katanya sambil menyodorkan kunci.

Saya lega dan kemudian teringat obrolan sama satu turis dari London yang bilang di Myanmar, asal kamarnya kosong, rata-rata hotel akan kasih (very) early check in. Very early check in banget, bayangkan aja, harusnya check in Pk. 14.00 ini boleh check in pagi-pagi banget. Mungkin nggak semua hotel juga ya, tapi dia cerita sih di beberapa hotel yang dia datengin, bisa aja begitu. Kalau kemarin perginya sama temen-temen sih lucu juga gambling begini ya. Gambling sambil ngirit pengeluaran nginep. Tapi kalau bawa anak sih kayaknya ga bisa juga.

Pagi pertama di Mandalay saya lewatkan dengan bersepeda ke pasar pagi. Bentuknya pasar basah, yang dijual dari daging, sayur, buah-buahan sampe……….daster. Banyak yang jualan makanan pula dan orang-orang asik aja duduk di emperan. Sebenernya pemandangan hampir serupa bisa kita liat juga di kota-kota di Indonesia sih, tapi ada di tempat yang baru kan selalu menyenangkan. Tanpa terasa tau-tau 2 jam aja saya habiskan untuk berkeliling pasar. Kopi khas Burma titipan @bowdat juga saya temuin disini setelah ke beberapa toko nggak dapet melulu.

Abis main pasar-pasaran saya balik hotel (plus nyasar dikit) dan kemudian siap-siap dijemput untuk pergi ke Mingun. Tempat ini berada sekitar 1 jam dari Mandalay. Saya sewa mobil beserta supirnya sekalian, untuk perjalanan seharian kita bayar 50.000 kyats. Ini agak sembrono gak pake nawar dan gak pake survey sih, tapi kayaknya harganya memang ga jauh-jauh dari itu. Oya, kalau mau ke Mingun, pastikan makan dulu di Mandalay karena di daerah sana agak susah cari makanan, saya paling lihat ada beberapa penjual snack sih.

Di area utama Mingun berdirilah Mingun Pahtodawgyi atau Mingun Pagoda yang walau belum selesai dibangun tapi tetap berdiri megah. Pendeknya, Pagoda ini dibangun untuk kemudian diharapkan menjadi pagoda terbesar di dunia. Sayangnya, dia tak pernah selesai dibangun. Direncanakan 150 meter tingginya, hanya selesai sampai 50 meter dan itupun rasanya sudah menjulang sangat tinggi. Di beberapa bagiannya (pastikan kamu mengelilingi pagoda sampai bagian belakang) ada beberapa retakan dari dasar sampai puncak akibat gempa besar yang pernah melanda Myanmar tahun 1839. Retakannya malah bikin pagoda ini tambah cantik.

IMG_5631

Dan dari sisi yang lebih dekat,

IMG_5623

Cerita di balik pembangunan Mingun Pahtodawgyi ini menarik karena ternyata, Raja Bodawpaya yang memprakarsai pembangunannya tidak disukai oleh rakyat terutama mereka yang ikut membangun pagoda ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini

Tak jauh dari Pahtodawgyi, ada sebuah bel raksasa yang juga dibangun oleh Raja Bodawpaya untuk menjadi lonceng terbesar di dunia. Walaupun bukan lagi merupakan lonceng terbesar di dunia, Mingun Bell ini masih berfungsi dengan baik, mengeluarkan suara ‘berwibawa’ ketika dibunyikan, pengunjung boleh coba kok. Dan saking besarnya, kita bisa masuk pula ke loncengnya dan bukan cuma sendirian, ber dua puluh pun cukup.

IMG_5595

Mau coba ikut masuk ke dalem loncengnya?

IMG_5601

Biasa aja sih ternyata di dalemnya, dan agak puyeng juga kalo lagi di dalem lonceng trus loncengnya dibunyiin. Yaeyalaaah.

Saya pernah baca bahwa pembuat lonceng ini kemudian dieksekusi setelah karyanya selesai oleh Raja Bodawpaya hanya supaya dia nggak bikin barang serupa di tempat lain. Sayang nggak nemu link yang bisa mengkonfirmasi cerita ini. Kalau soal lonceng nya sendiri sih bisa dibaca disini.

Masih ada satu pagoda yang harus kamu kunjungi kalau kamu lagi di Mingun. Namanya Hsiunbyume Paya. Desainnya beda banget sama pagoda-pagoda lain yang pernah saya lihat. Yang satu ini berwarna putih dan mempunya 7 layer sebelum sampai ke puncak pagodanya.

IMG_5607

Desain Hsinbyume ini dibuat berdasarkan layer pagoda yang ada di Gunung Meru, yaitu Pagoda Sulamani. Pagoda cantik berwarna putih ini dibangun oleh Raja Bagyidaw untuk mengenang istrinya yang wafat duluan saat melahirkan. Cerita lengkap Hsinbyume bisa dibaca disini.

Hari itu langit di Mingun cerah banget dan saya jadi pengen posting foto ini disini

IMG_5587

Cakep banget ya. Iyain aja biar cepet.

Setelah dari Mingun, tujuan utama saya adalah ke U-Bein Bridge dimana katanya adalah tempat untuk liat sunset paling ajib se Mandalay.

Sunset di Bagan udah dapet, sekarang mai mengejar sunset di U-Bein Bridge🙂

U-Bein Bridge ternyata cukup touristy, banyak turis lokal maupun internasional berkumpul di samping danau Taungthaman untuk melihat sunset. Yang jadi ciri khas dari jembatan ini adalah karena dia terbuat dari teakwood. Gosipnya, ini adalah jembatan dari teakwood terpanjang di dunia, dari ujung ke ujungnya lagi terdapat 984 tonggak teakwood, dan di antaranya ada juga yang sudah diganti dengan bahan tembok. Yah daripada jatoh kali ya. Jembatan cantik ini dibangun tahun 1850 waktu kerajaan Ava memindahkan ibukota ke Amarapura.

IMG_5867

Jadi untuk menikmati sunset disini, bisa naik perahu (lumayan mahal, 12.000 kyats), bisa juga dari sisi danau sambil menangkap cantiknya tekstur teakwoodnya.

Saat matahari mulai tenggelam,

IMG_5766

Kamu juga bisa duduk di kafe sederhana di setelah turun dari jembatan. Ada 2 tempat makan dan minum dimana kamu bisa duduk manis menunggu matahari tenggelam. Herannya, harga minumannya masih sama aja kayak di tempat lain, 1000 kyats untuk air kelapa dan 500 kyats untuk kopi. Biasanya kalau tempatnya sudah se-strategis ini kan harganya suka mulai ga masuk akal.

IMG_5768

Asik kan? Iya-in ajaa biar cepet.

Abis dari U-Bein Bridge, kita balik ke hotel dan mendapati jalan ke arah hotel ditutup karena di area itu ADA PASAR MALAM! Wah kejutan tak terduga dan makin seru acara kita di Mandalay. Ada panggung dengan hiburan organ tunggal, ada berbagai mainan khas 17 Agustusan, ada banyak yang jualan makanan ringan dan berat juga, asik banget! Saya langsung cari cemilan asik dan menemukan banyak!

Yes, belum pernah nolak kalau ada jagung bakar😀.

Myanmar ini memang menyenangkan sekali. Yang bikin tambah menyenangkan adalah orang-orangnya yang baik, dan nggak manfaatin kita yang nggak tau apa-apa. Kendala paling cuma bahasa tapi itu juga minor, rata-rata mereka bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit terutama supir taxi atau mereka yang memang kerjaannya berhubungan sama turis. Ya kalau datengnya ke pasar mah wajar bener pake bahasa Tarzan. Makanan memang nggak semua halal, tapi resto2 biasanya menyediakan masakan dari sapi, ikan dan ayam kok, jadi masih banyak pilihannya.

Banyak yang tanya “bawa Biyan keliling begitu nggak repot? ketambahan lagi dengan pake bis malem, tiba subuh, ngangkut tas dll?”

Untungnya, Biyan nggak rewel di jalan, sempat juga panas demam di perjalanan dari Bagan menuju Nyaung Shwe dan mamanya yang cerdas ini nggak bawa obat demam sama sekali. Alhamdulilah langsung turun dan normal lagi. Mungkin kecapean plus perubahan cuaca yang mayan drastis. Sisanya perjalanan di bis malam banyak dilewati sambil tidur aja kok. Bisnya belum jalan, anaknya udah tidur. Untung urusan makanan pun gampang-gampang aja, disuguhin apapun ya dimakan aja walau kadang rasanya suka ajaib. Sudah mulai seneng liat-liat pagoda yang cantik-cantik, kegirangan waktu diajak naik delman/dokar yang bisa dipake buat tidur siang sekalian, ketawa teriak-teriak waktu dibilang boleh gebah-gebahin merpati di halaman pagoda, juga waktu terpesona melihat sunrise dari atas pagoda. “Aku kira liat sunrise itu cuma bisa di pantai”, katanya.

Beberapa tips yang semoga berguna kalau satu kali nanti kamu tiba-tiba pengen ke Myanmar :

  1. Uang kyats di Indonesia ga bisa dituker di money changer. Nggak usah nuker, mereka rate-nya aja ga punya. Juga ga diterima di money changer di Bangkok. Jadi saran saya, kalau masih sisa kyats nya, belanjalah di airport. Airport Mandalay kecil dan tokonya ga banyak, tapi urusan souvenir sih oke aja, pilihannya mayan banyak.
  2. Kalo pas mampir ke U-Bein Bridge dan masih punya waktu masuk ke monastery sebelum mengejar sunset, sempatkanlah masuk. Katanya bagus dan kehidupan biksunya memang menarik, sayang saya nggak sempat
  3. Tempat souvenir sekitaran U-Bein Bridge harganya masih masuk akal. Kalau saya perhatikan, yang suka jadi lebih mahal padahal barangnya sama ya paling aksesories semacam gelang, kalung, dan lain-lain. Sementara barang semacam sarung, kain, dan baju, harganya nggak pernah beda jauh-jauh amat

Rasanya masih ada aja tempat lain yang ingin didatengin di Myanmar seperti Inndein Village di Inle Lake, Ngapali yang ada pantainya, dan beberapa tempat lain. Semoga kapan ada kesempatan untuk pergi lagi🙂

6 Comments

Filed under Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

6 responses to “Mandalay. Tak Cukup Sekali.

  1. ke pasar malam di manapun iti selalu asik ya, banyak jajanannya. Untungnya biyan asik2 aja ya di ajak kesana kemari, Biyan ngertiin emaknya banget deh😉

    • Pashatama

      Iyaa aku seneng banget pas tau ada pasar malem deket hotel, karena kesannya kan go local banget ya, nggak touristy gitu. Biyan memang nomer satu di dunia yang paling ngertiin ibunya

  2. Selalu suka ngeliat pasar tradisional dimana pun, walopun kadang becek tapi tetep dijabanin keliling-keliling.
    Salut lah mbak dirimu bisa bawa anak jalan-jalan berduaan begini.

    • Pashatama

      Iyaaa kenapa ya tiap ke satu kota suka penasaran liat pasarnya padahal kadang nggak beli apa2 juga sih.
      Aku kemarin pergi bertiga sama suami juga Mbak, ga bedua2 banget, hehe.

  3. Jembatannya magis abis. Dulu pernah baca liputan tentang jembatan ini di Natgeo. Bucketlisted. Catatannya asik Kak Sya.🙂

    • Pashatama

      magis abis-abisan, setiap sudut seperti punya cerita sendiri. Semoga segera mampir kesana ya dan ga pake ketinggalan pesawat.

      Thanks Farchan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s