Mengejar Gerhana Matahari Total ke Palembang

Sebelum kemarin pergi dengan beberapa teman travel bloggers, saya sudah beberapa kali pula berkunjung ke Palembang. Tapi tujuannya hanya urusan kerjaan dan nggak ada pake jalan-jalan. Nyobain makanan pun yang kelewat aja dan nggak cari yang enak. Nggak kayak ini nih.

Ternyata banyak yang saya lewatkan dari kunjungan-kunjungan pertama saya ke Palembang.

Apaan aja coba?

Pertama, Palembang ternyata punya area Kampung Arab yang sangat Instagrammable! Sebagai yang doyan posting foto yang cakep-cakep di Instagram, Kampung Arab Al Munawar di area ilir 13 ini sungguh tempat yang menyenangkan untuk disusuri. Rumah-rumah yang ada di sana umurnya ada yang udah sampe ratusan tahun. Bentuk rumahnya unik, ada yang berbentuk rumah limas, ada juga yang disebut rumah batu.

Kampung Al Munawar ditinggali oleh sekitar 300 orang. Yang perempuan dilarang untuk menikah dengan orang di luar komunitas mereka untuk tetap menjaga ke-autentik-an budaya dan darah mereka (aduh nulis darah kok rasanya gimana gitu).

Bahkan sebelum masuk ke kampungnya, Al Munawar sudah mempesona dari awal.

IMG_7722

Cantik kan background-nya? Tenang, ini belum apa-apa.

Masuk ke lorong Al Munawar seperti masuk ke mesin waktu. Seperti terbang ke dimensi waktu yang lain, atau bahkan seperti nggak lagi di Indonesia, seperti ada di negara Arab manalah. Apalagi waktu itu hari Jumat siang, ketika para bapak-bapak sudah bersiap untuk beribadah Jumatan dan anak-anak sekolah pun lagi libur karena hari Jumat.

IMG_7691

Di rumah ini kami kemudian disuguhi tarian khas mereka plus musik Gambus-nya yang bikin kaki ini pengen ikut menari.

Oh dan sebelumnya kami diajak makan siang ala tradisi Munggahan yaitu salah satu acara adat pra pernikahan khas Palembang. Cerita lengkapnya udah saya ceritain disini beberapa hari lalu.

Tarian dan Gambus bikin siang hari kita makin meriah hari itu. Beberapa orang bapak-bapak menari di depan kami dengan ceria. Ini rahasia tapi saya kasi tau ya, saya sempat ber-air mata melihat ekspresi bapak-bapak itu menari. Wajah mereka cerah ceria, kayak nggak punya masalah dan kayak tarian itu adalah hal paling penting dari hidup mereka.

IMG_7735

@ddyhuang dan @cumilebaycom ikutan menari

IMG_7725

Kemana ibu-ibunya saat mereka menari dan main musik? Ada di belakang dan mengintip dari balik tembok. Di adat mereka, perempuan tidak diperkenankan menari bersama laki-laki.

Di Kampung Al Munawar juga kami bertemu dengan anak-anak kecil lucu ini. Mereka cerita soal hantu banyu yang ada di Sungai Musi, cerita soal teman perempuan mereka, Nabila yang katanya paling cantik. Ketika ditanya kenapa paling cantik, jawabnya sungguh di luar dugaan : karena akidahnya baik, katanya🙂.

Mereka juga seru minta diajak ngomong bahasa Inggris. Firsta dengan iseng bilang saya ini datang dari Inggris, dan mereka percaya aja karena di bawah sinar matahari seperti kemarin, rambut saya jadi coklat terang benderang.

Dan di ujung pertemuan tentu saja kami sempatkan berfoto bareng dengan anak-anak lucu ini,

IMG_7712

Kampung Al Munawar ini akan dijadikan salah satu tujuan wisata di Palembang. Pantes banget sih, daerahnya Instagrammable, cerita budaya dan adatnya juga menarik. Saya aja udah niat akan balik lagi ke sini kalau bisa bawa fotografer. Menurut Ibu Irene Carmelyn Sinaga sebagai Kadispar Sumatera Selatan waktu makan siang munggahan bareng, sudah akan ada 500 wisatawan dari Malaysia yang dijadwalkan mampir ke Kampung Al Munawar bulan Maret nanti.

Cerita lain soal Kampung Al Munawar ini bisa dibaca di blog nya Satya Winnie juga di blognya Firsta. Ada pula di blognya Tika, silakan intip satu-satu.

Kedua, makan siang di restoran apung sisi Sungai Musi. Ini mungkin bisa dibilang makan siang paling sedap selama saya ada di Palembang kemarin. Cerita soal makan siangnya nanti saya ceritain terpisah di surgamakan.com ya. Ini cerita soal venue nya dulu.

Ikan Pindangnya sih memang sedap tiada tara, tapi makan bareng di dalam sebuah kapal yang suka goyang-goyang terkena air sungai memang bikin cerita tersendiri. Apalagi dari dalam kapal ini kita bisa melihatan megahnya Jembatan Ampera di luar sana.

 

IMG_7483

FullSizeRender

DSC02921

(foto minjem punya Firsta)

Area sekitar Sungai Musi yang berdekatan dengan jembatan Ampera ini memang menyimpan banyak pesona. Selain restoran apung ini, dari area ini kamu juga bisa menyeberang ke Pulau Kemaro. Soal pulau kecil ini nanti saya ceritain ya.

Dan kamu tau kan kalau 9 Maret 2016 nanti akan ada gerhana matahari total yang selain akan melewati Bangka, Belitung, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Luwuk, Ternate, Tidore, Palu, Poso dan Halmahera, juga akan melewati Palembang. Memotret fenomena alam ini tentu saja akan jadi hal yang menarik baik untuk fotografer profesional maupun yang seneng foto-foto seperti saya. Asiknya, Festival Gerhana Matahari Total akan digelar di Jembatan Ampera dengan menutup akses jalan lewat jembatan tersebut dari Pk. 00.00-12.00. Menurut berita dari detik.com, ini adalah penutupan selama 12 jam pertama sejak Jembatan Ampera diresmikan oleh Soekarno.

Selain acara memotret gerhana matahari total, di hari itu juga akan ada pertunjukkan naga sepanjang 18 meter yang ceritanya akan memakan matahari plus akan ada juga barongsai yang akan meramaikan Jembatan Ampera.

IMG_7932.JPG

Kalau kamu suka motret dan ada di Palembang, jangan sampe terlewat ya. Kalau kamu suka motret tapi nggak ada di Palembang? Ya terbang ke sana dong ah.

Oke ketiga adalah soal Pulau Kemaro. Sebelum pergi ke Palembang saya sempat resah, aduh mau ke pulau, sinyal aman nggak nih. Ternyata Pulau Kemaro posisinya nggak jauh-jauh amat kok. Berperahu lewat Sungai Musi pun cuma 20 menitan udah sampe. Ketambahan lagi selama di perahu sibuk foto-foto sehingga nggak kerasa tau-tau udah sampe di Pulau Kemaro.

IMG_7404

Pulau Kemaro menyimpan cerita cinta tragis antara Tan Boen An – seorang saudagar dari Cina dengan Siti Fatimah, seorang putri dari Palembang. Menurut legenda, Tan Boen An membawa guci-guci berisi emas dari Cina untuk diberikan pada ayah mertuanya, namun pas diintip lho kok isinya malah sawi asin (padahal enak dibuat bakut sayur asin). Dengan emosi Tan Boen An membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi, tapi pas guci terakhir dia melihat ada emas di dalamnya dan kemudian Tan Boen an melompat ke sungai untuk mengambil kembali gucinya. Siti Fatimah dengan setia kemudian menyusul kekasihnya dan akhirnya tentu saja dua-duanya tidak pernah kembali lagi ke darat.

Pulau Kemaro kemudian diyakini adalah makam dari sepasang kekasih ini. Sebagai peringatan, dibangunlah sebuah kelenteng di mana juga disemayamkan jenazah Tan Boen An, Siti Fatimah dan kedua pelayannya yang waktu itu ikut menyusul ke Sungai Musi.

Pesan moralnya adalah tak ada guna menyusul kekasih yang lompat ke sungai. Mati berdua kemudian tak ada faedahnya. #okesip.

Selain kelenteng, di Pulau Kemaro juga ada pagoda yang menjulang tinggi. Sayangnya pas kami ke sana, pagoda ini tidak dibuka. Jadi kalau kamu kesana, pergilah saat ada perayaan cap go me, misalnya, katanya pagoda akan dibuka untuk umum dan kayaknya melihat pulau kemaro plus sungai musi dari puncak pagoda akan menarik deh.

Walau ga dibuka, foto-foto sih boleh kok.

IMG_7493.JPG

Yang ini foto dari kameranya cumilebay

Jadi kalau kamu berkesempatan ke Palembang nanti, mampirlah juga ke Pulau Kemaro, ada pohon cinta yang katanya akan bikin kamu  dan pasangan langgeng kalau menulis namamu berdua di sana. Walaupun berdoa tetaplah harus pada yang di atas, bukan sama pohon. #okesip.

Sudah sampe nomer berapa tadi?

Oke keempat.

Di Palembang kemarin kami diajak berkunjung ke beberapa museum. Ada Museum Bala Putra Dewa di mana tersimpan banyak peninggalan kerajaan Sriwijaya. Dengan hanya membayar biaya masuk sebesar Rp. 2000, kita bisa mendapatkan banyak cerita soal kejayaan Sriwijaya.

IMG_7213

dan tangan siapakah ini?

Di Museum Bala Putra Dewa juga akhirnya saya bisa melihat bentuk asli rumah limas yang selama ini cuma kita lihat di lembaran uang sepuluh ribuan.

IMG_7225

(ga tiap hari di-photobomb sama fotografer kondang)

Rumah limas ini sudah ada sejak tahun 1830, tadinya dimiliki oleh Pangeran Syarif Adurrahman, berhubung bentuknya knock down jadi kan bisa dipindah-pindahkan, sempat disimpan di Sirah Pulau Padang, Pamulutan sampai ke halaman kantor walikota Palembang, akhirnya sejak tahun 1985 rumah ini ditempatkan di Museum Bala Putra Dewa.

Museum Bala Putra Dewa – Jl. Srijaya I no 288 km 5,5 Palembang

Oh kami juga sempat berkunjung ke yang namanya Museum Sriwijaya yang menyimpan banyak cerita soal kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Di museum ini bahkan didirikan persis di tempat situs kerajaan Sriwijaya ditemukan dulu. Terdapat banyak artefak dan prasasti di dalamnya. Ada pula guide yang dengan senang hati akan menceritakan segala sesuatu yang ada di museum ini.

Bagian luar museum juga menarik perhatian saya dan teman-teman. Kebunnya luas dan asri, bahkan katanya suka ada pesta pernikahan outdoor di sini. Ya pantes sih, bagus soalnya. Di bagian belakang juga terdapat amphiteater yang mungkin suka dipakai untuk pertunjukkan teater atau musik. Melihat kebun cantik kayak begini, kami terus ga tahan untuk pasang aksi dong ya

DSC03114

Museum Sriwijaya – Jl. Syakirti Karang Anyar, Palembang

Tempat selanjutnya alias kelima yang mau saya ceritain ini adalah salah satu tempat yang menurut saya paling bagus di Palembang.

Namanya Bukit Siguntang. Tempat ini dipercaya sebagai tempat datangnya Sang Sapurba yang di kemudian hari menurunkan raja-raja Melayu. Tempat ini juga kemudian dijadikan makam dari 7 orang raja, bangsawan, tokoh dan pahlawan Kerajaan Melayu -Sriwijaya yaitu :

  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang

Masing-masing makam diletakkan berjauhan, masing-masing mempunyai juru kuncinya sendiri-sendiri. Tempat ini juga dijadikan tujuan ziarah bagi banyak penduduk lokal.

IMG_7505.JPG

Makam Putri Kembang Dadar

Bukit Siguntang juga dikenal sebagai Taman Purbakala dan sampai saat ini masih dilindungi karena sering ditemukan artefak peninggalan Sriwijaya di tempat ini. Tahun 1920 bahkan ditemukan sebuah patung Buddha dalam keadaan terpisah-pisah. Terletak kurang lebih 4km dari pusat kota Palembang, Bukit Siguntang ini sungguh merupakan taman besar yang teduh dan adem (walau banyak nyamuk).

IMG_7500

Keenam. Di Palembang ternyata terdapat Al Qur’an paling besar sedunia!

Baru tau?

Sama.

Jadi, Al Qur’an ini diukir di atas bilah kayu berukuran tinggi 1.7 meter dan lebar 1,3 meter. Lalu berapa banyak bilah kayu yang diperlukan untuk menulis semua ayat-ayat Al Qur’an? Yang jelas diperlukan 5 lantai untuk menyimpan semua kayu ini.

Tempat ini juga Instagrammable, banyak sudut yang bisa dijadikan spot foto yang cakep.

IMG_8027

Ini Yuki

IMG_7675

Bayt Al Qur’an Al Akbar – Pangeran Sido Ing Lautan Lrg Budiman, No 1009 Kelurahan 35 Ilir Palembang.

Setelah baca cerita di atas, kamu jadi pengen ke Palembang nggak sih?

Kalau satu waktu nanti kamu memutuskan untuk main ke sana, boleh hubungi guide kami yang super canggih kemarin, namanya Pak Latief, no tlp nya 081373332436.

Kalau masih pengen intip foto-foto seru selama di Palembang kemarin, ada di Instagram @pashatama dan @surgamakan ya. Bisa juga mampir ke Instagram-nya @wonderfulsriwijaya.

16 Comments

Filed under jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

16 responses to “Mengejar Gerhana Matahari Total ke Palembang

  1. Waaaaahh ada foto akuuuuh!!!
    #penting
    Emang menelusuri Palembang kalau sama guide yg bener bisa seru melihat spot-spot kece inih!!!

  2. Waaaaahh ada foto akuuuuh!!!
    #penting
    Emang menelusuri Palembang kalau sama guide yg bener bisa seru melihat spot-spot kece inih!!

  3. Pingback: Palembang: Lorong Waktu Di Kampung Arab Al Munawar – About life on and off screen

  4. fotonya kocak2 gayanya, seru sekali cerita perjalanannya, jadi pengen kesana juga, semoga bisa kesampaian🙂

  5. *nandain tempat2 incaran haha* Thanks for the report trip kak😀

  6. Larissa Aesthetic Center

    Asyik2 dapet banyak referensi dan pengalaman seru ngikuti pashatama🙂 thanks…

  7. Pingback: Bagai Lidah Dipinang Pindang Ikan | Cerita Soal Makanan Dari yang Enak Sampe yang Enak Banget

  8. So informative! Thank you, Sashi! Jadi ada referensi ngapain aja sambil ngejar gerhana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s