Khao Yai : Saat Baht Berasa Bagaikan Euro

Kalau ada yang tanya kenapa tiba-tiba saya berangkat ke Khao Yai pasca Lebaran kemarin maka tanpa ragu saya akan menunjuk blognya Kadekarini dan artikelnya Tripcanvas yang ini dan yang ini. 

Dengan jarak yang hanya 3 jam saja dari Bangkok, berada di Khao Yai rasanya mungkin seperti berada di Eropa bukannya di Thailang (padahal saya belum pernah ke Eropa sih). Hamparan tanah kosong kehijauan, udara yang ga (terlalu) panas, dan jalanan luas yang sepiiii membuat saya berpikir kenapa sih nggak dari dulu saya main ke Khao Yai?

Saya berangkat dari Terminal Bis Mo Chit yang berjarak sekitar 40 menitan dari bandara Don Mueang. Walau petunjuk loket bisnya semua huruf cacing, tapi cari bis ke Khao Yai nggak susah kok. Memang nggak ada jurusan Khao Yai sih, jadi kamu mesti cari bis dengan jurusan Nakhon Rachasima. Lalu berhenti di Pak Chong.

Lho kok Pak Chong? Katanya Khao Yai?

Gini. Ibarat Bandung dan Lembang, Pak Chong ini Bandungnya, Khao Yai itu Lembangnya. Kebayang kan? Jadi di Pak Chong lebih banyak penduduk lokal sementara Khao Yai lebih ke tempat wisata. Ya walau bukan berarti ga ada penduduk lokal juga.

Mengikuti saran Kadek, saya menginap di Pak Chong, walaupun Khao Yai adalah tujuan utama saya.

Balik bentar ke cerita naik bis. Jadi setelah dapat tiket, kamu tinggal jalan ke platform tempat bis-bis ini menunggu. Jangan khawatir ga bisa go show, bisnya berangkat setiap 30 menit sekali dan kayaknya sih ada beberapa perusahaan yang punya jalur ke Nakhon Rachasima. Harga tiketnya sendiri  133 baht yang adalah 52.000 rupiah. Murah ya buat perjalanan 3 jam? Bisnya juga cukup oke kok, berAC juga. Dan karena armadanya banyak, ga sampe sesak-sesakan

IMG_6933

IMG_6931

Sampai di Pak Chong, saya cukup berjalan kaki aja ke hotel. Beruntung sih memang, padahal waktu booking hotel saya juga nggak tau seberapa dekat jaraknya dari tempat turun bis.

Oya, pulang dari Pak Chong ke Bangkok saya nggak naik bis lagi tapi naik travel!, Ya mobilnya mirip dengan mobil travel Bandung-Jakarta gitu, harganya sedikit lebih mahal dari bis, 150baht aja. Jam keberangkatannya ada tiap jam jadi bisa go show ga perlu reservasi. Travel ini ada banyak di jalanan besar Pak Chong, tinggal pilih aja mau yang mana, harganya juga sama kok.

Hotel saya di Pak Chong namanya The One House Hotel yang menyenangkan sekali. Tempatnya bersih dan harganya sangat bersahabat. Bayangkan, dapet unit DUA lantai dengan sofa, pantry kecil, balkon dll cuma Rp.500.000an. Mau kamar 300 ribuan juga ada, dan sebenernya cukup dan decent juga.

DSC_0006

Malam di Pak Chong ternyata menyenangkan juga. Dari hotel tinggal jalan 200 meteran dan sudah banyak makanan berjajar di pinggir jalan. Dari makanan lokal sampe sushi, yakiniku dan burger. Tempat makannya macam-macam, ada yang resto, kaki lima, sampe lesehan di trotoar.

Tadinya saya berencana untuk pergi ke Khao Yai dengan menyewa motor (perlu sekitar 40 menitan untuk sampai ke Khao Yai), tapi hari itu hujan rintik-rintik jadi daripada kehujanan kan ya, maka saya kemudian mencari tau di mana bisa menyewa mobil. Dari seorang ibu yang saya temui secara nggak sengaja di jalan, kami dapat sewaan mobil plus supir dengan harga 2500baht untuk pergi ke Khao Yai.

Jam 08.00 esokan harinya, mobil beserta supirnya sudah menjemput saya di hotel. Rata-rata mobil yang disewakan di sana berupa truck kayak gini. Seru juga angin-anginan 40 menit sampai Khao Yai🙂

IMG_7551

Sampai di Khao Yai saya baru mengerti kenapa Kadekarini kasi saran untuk nginep di Pak Chong aja. Gini cyin, Khao Yai ini jalannya gede-gede banget. Jarak dari satu tempat ke tempat lain lumayan jauh, ga banyak hotel yang berdekatan dengan tempat makan (Kadek kayaknya tau saya doyannya makan). Ada beberapa tempat yang jadi tujuan saya di Khao Yai :

  1. Palio Village

Palio Village ini sebenernya tempat belanja sih. Banyak toko-toko di dalam kompleks yang desainnya kayak di Eropa ini. Saya kesana pas Jumat siang, jadi masih banyak toko yang tutup (kayaknya mereka hanya ‘hidup’ pas weekend). Dan pengunjung juga sedikit banget. Sungguh  asik dan laff berkeliling Palio Village sambil foto-foto tiada henti dan jajan-jajan makanan kecil.

 

2. Primo Piazza

Primo Piazza ini sepi banget pas saya dateng kesana. Sepi as in nggak ada orang lain selain mbak yang jaga tiket dan mas yang jaga peternakan mini. Beda dengan Palio Village yang tidak mengenakan tiket masuk, untuk masuk ke Primo Piazza ini kamu perlu bayar 100baht atau sekitar Rp. 40.000. Dengan tiket itu kamu bisa menelusuri semua pojok Primo Piazza yang cantik plus ngasi makan domba, kambing, dan llama yang ada di peternakan mini mereka. Anak-anak pasti senang ngasi makan binatang-binatang itu dan berlarian di rumput.

Nggak cuma ngasi makan ternak aja kok, di Primo Piazza juga ada wine bar kecil yang kayaknya asik disinggahi sore-sore. Ada juga toko souvenir yang barang-barangnya gemes minta dibeli semua (walaupun nggak jadi beli karena harganya lumayan mahal, euheueh).

3. Chocolate Factory

Dari namanya udah tau dong, ini tempat bikin cokelat. Nggak cuma bikin aja, tapi ada juga cafe di mana kamu bisa ngemil-ngemil dan minum kopi (atau susu cokelat, terserah aja).

Produk cokelatnya banyaaaak banget dari cokelat batangan yang bisa pilih cokelat putih atau cokelat biasa, cake cokelat, cookies, dan lain-lain. Kalau kamu suka cemilan yang manis-manis, tempat ini udah kayak surga kali ya.

Di Chocolate Factory juga ada hotelnya. Kebayang kan bangun tidur langsung cium aroma cokelat?

4. Coffee Shop : Galaxy 17

Kalau kamu suka ngopi dan suka coba-coba tempat baru untuk ngopi, maka Khao Yai adalah tempat yang tempat untuk di-eksplor. Begitu juga kalau kamu doyan makan dan senang makan di tempat yang cantik-cantik. Ada banyak cafe dan resto yang dibahas di artikel ini, silakan diintip satu-satu.

Tanpa sengaja saya mampir ke satu coffee shop bernama Galaxy 17 yang interior designnya dipenuhi dengan tema alien. Menarik banget, apalagi bawa anak lelaki ya, dia seneng banget diajak ngopi di sini.

 (banner Happy New Year di Bulan Agustus. Mungkin di planet lain masih Januari)

5. Pak Chong Night Market 

Walaupun kotanya kecil, namun Night Market di Pak Chong ternyata cukup meriah. Bisa jalan sekitar 20 menitan dari hotel saya, malam terakhir di Pak Chong saya habiskan dengan menelusuri night market dan jajan sepuasnya.

Sama dengan night market di kota-kota lain di Thailand, makanannya berlimpah banget, dari mulai aneka macam daging panggang, sampe aneka mie kuah, dari penganan manis sampe buah segar, semua ada. Kalau kamu kesana dan kalap, saya nggak nyalahin. Karena saya juga kalap! Mana harganya murah-murah kan ya. Lapar mata sungguh dimaafkan di Pak Chong Night Market.

 

6. Ban Mai Chay Nam Restaurant

Sebelum meninggalkan Pak Chong untuk kemudian kembali ke Bangkok saya diajak bapak supir yang baik hati itu makan siang di Ban Mai. Terletak di dalam sebuah gang kecil di Pak Chong , tapi pengunjungnya rame banget! Dan kayaknya tamunya banyak warga Bangkok yang weekend-an di sana. Kenapa saya tahu? Karena penduduk Pak Chong rata-rata nggak terlalu modis, ya sama ajalah kayak kalau kota kecil di Indonesia didatangi turis-turis asal Jakarta.

Nggak sekedar restoran biasa, Ban Mai Chay Nam menawarkan banyak hal yang bisa dilihat. Desain interiornya sungguh tak biasa, segala macam barang bisa jadi elemen dekorasi di sana. Tiap ruangan punya nuansa yang berbeda. Di pintu masuk, kamu akan disambut oleh Marylin Monroe, Batman, Superman, Betty Boop dan lain-lain

Toiletnya mengingatkan saya pada toilet La Favela, Bali yang terkenal dengan desain interiornya yang berbau horror itu. Di Ban Mai Chay Nam bahkan lebih seru lagi, ada boneka menyerupai manusia yang digantung di langit-langit! Kalau malam-malam kayaknya agak males ni ke toilet sendiri.

Selain desain interior yang instagram material sampe ke ujung-ujungnya, di tempat ini juga kamu akan menemukan mainan jaman baheula baik yang bisa dibeli maupun mesin-mesin yang dimainkan di sana.

Makanannya lumayan, ga terlalu murah memang untuk ukuran Pak Chong. Tapi dengan makan di area yang posisinya di tepi sungai plus desain interior yang sedemikian menarik, rasa makanan memang jadi nggak terlalu penting. Walaupun ternyata enak juga sih. Enak apa lapar, hanya perut yang tahu.

 

7. Khao Yai National Park

Pantas saja supir kami ngotot nggak mungkin menyatukan perjalanan ke Khao Yai National Park dengan tempat lain. Bukan masalah jarak, tapi Khao Yai National Park ini tempatnya LUASSSSSSS banget.

Tiba di sana, saya mendadak merasa salah kostum. Jadi rupanya National Park ini digemari turis-turis asing untuk pergi trekking. Seketika teringat Firsta yang setiap perjalanan sama dia pasti ada rute trekkingnya. Mereka semua datang dengan kostum yang sangat mendukung PLUS penutup kaki yang disediakan sama supir kami. Sementara saya datang dengan baju seadanya. Alhasil jadi lucu memang tampilannya

IMG_7604

Pake celana pendek tapi pake tutup kaki biar ga digigit serangga. No point at all :)) . Pas saya kasi liat foto ini ke Dee, dia langsung ngakak dengan senang hati : “Teteh, kamu kayak beri beri!”. Sialan.

National Park ini memang jadi salah satu tujuan turis. Tapi kalau boleh kasih saran, sebagai orang Indonesia yang alamnya begitu cantik, kunjungan ke sini bisalah kamu batalkan. Alam Indonesia memang tak bisa ditandingi lah ya. Dari air terjun, camping ground, danau, sampai cafe pinggir sungai di Khao Yai National Park, tak ada sedikit pun yang bisa menyaingi kecantikan yang kita punya di sini. Bahkan air terjun andalan mereka yaitu Haew Narok pun biasa aja kok.

Masih banyak tempat yang belum saya datangi di Khao Yai. Tapi yang paling bikin menyesal adalah nggak sempat ke kebun bunga matahari. Kebayang kan satu ladang luas yang dipenuhi bunga matahari? Waktu ke Kakku di Myanmar dulu juga saya melewatkannya.

Jadi itu artinya masih boleh menyimpan harapan untuk satu waktu pergi kesana lagi kan ya🙂

14 Comments

Filed under Cantik, Cinta, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling

14 responses to “Khao Yai : Saat Baht Berasa Bagaikan Euro

  1. Untuk alamnya saya percaya Indonesia masih dapat bersaing sih. Hanya tinggal bagaimana cara mempromosikan sehingga wisman bisa datang ke Indonesia.

    Itu mobilnya gahar banget, yakin deh kalau jalan seterjal apapun dapat dilibas. Kulinernya juga unik, kirain tadi sate🙂

    • Pashatama

      Yes bener banget, semoga yang selama ini dilakukan Kemenpar menghasilkan lebih banyak turis yang datang ke Indonesia ya.

      Mobilnya ini termasuk kecil lhoo, kalau perginya banyakan, mobil yang dateng beneran truk besar : )))

  2. Duh Mak! Thailand itu beneran surga makan yaaaaa 😂😂😂 Pasti kalappp. Bagus banget ya Khao Yai ini. Masukin bucketlist ah~

    • Pashatama

      Thailand memang luar biasa deh makanannya ya Sat. Bahkan Pak Chong yang kota kecil aja aman banget buat jajan makanan, berlimpah ruah!

      Kapan2 mampirlah ke Khao Yai, cantik banget.

  3. aku lapar liat poto-potonyaa..

    Tulung…

  4. Pino

    Tujuan utamaku nanti kalo ke Khao Yai mau ke Prima Piazza mau kayak Biyan kasih makan Ilama dan sheep, terus sheepnya ada yang mencelat keluar kandang sangking pengen dapet makanannya :))))

  5. Seruu dan bagus bagus bangeet fotonyaaa! 😀

  6. Manja tempat nya, aku kmrn amu kesini juga tapi batal gara2 temen ku mau nya ke mall doang belanja

  7. wuidiiiihhhhh!
    seru banget liatnya dan bersih, dulu juga taun 2012 pernah kesini, sejuk banget dan superrrrr bersih udaranya, cuman kendaraan susah banget ya hahhahah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s